Baru Tayang Seminggu, Almarhum Jadi Film Indonesia Pertama Paling Ramai Ditonton Di Awal Tahun 2025 Tembus 500 Ribu Penonton
Jakarta, 17 Januari 2025 - Industri perfilman Indonesia menyambut tahun 2025 dengan optimisme
tinggi setelah mencatat angka fantastis pada tahun 2024, yaitu 80 juta penonton
untuk film lokal. Angka ini bahkan melampaui total penonton film impor yang
hanya mencapai 45 juta. Kesuksesan ini menjadi langkah besar menuju prediksi
tahun 2025 sebagai masa keemasan perfilman nasional.
Mengawali tahun baru, film Almarhum produksi Unlimited Productions bersama
Light House, A&Z Films, dan DAP, mencetak prestasi gemilang dengan meraih
500 ribu penonton hanya dalam waktu satu minggu sejak penayangan perdana.
Pencapaian ini menjadikan Almarhum
sebagai film Indonesia pertama di tahun 2025 yang meraih angka tersebut,
sekaligus mengungguli film-film lain yang tayang di bulan Januari.
“Ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, bukan hanya bagi kami sebagai kreator, tetapi juga bagi kemajuan perfilman Indonesia. Prestasi ini memberikan semangat baru untuk Unlimited Productions agar terus menghadirkan film yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyentuh problematika kehidupan sehari-hari,” ujar Oswin Bonifanz, produser Almarhum.
Cerita Dekat, Makna Mendalam
Kesuksesan Almarhum tidak terlepas dari jalan ceritanya yang dinilai relevan dengan
kehidupan sehari-hari, sekaligus sarat dengan makna. Film ini mengangkat mitos
Selasa Kliwon yang memicu serangkaian teror dalam sebuah keluarga, hingga
menguji kepercayaan spiritual dan rasionalitas antaranggota keluarga.
“Film horor yang hanya mengandalkan jumpscare
sudah banyak. Almarhum menawarkan
sesuatu yang berbeda. Lewat mitos Selasa Kliwon, kami ingin menggugah renungan
tentang makna gelar ‘Almarhum’—mengingatkan bahwa ajal selalu dekat di tengah
kesibukan kita mengejar hal-hal duniawi,” tambah Oswin.
Final Destination "Rasa Lokal"
Banyak komentar warganet yang membandingkan
"Almarhum" dengan film Hollywood "Final Destination" karena
adegan-adegan kematian ikonik yang diciptakan dari situasi sehari-hari.
Beberapa adegan, seperti water heater dan kipas angin, menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Oswin menegaskan bahwa kesamaan tersebut
bukanlah hasil sebuah kesengajaan. “Prinsip kami sejak awal adalah menghadirkan
adegan kematian yang ikonik dan relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia,
tanpa membohongi logika penonton. Mendengar film kami disebut Final Destination
Rasa Lokal tentu membuat bangga, tapi niat kami adalah menciptakan sesuatu yang
autentik,” jelasnya.
Hingga saat ini, "Almarhum" masih
mendapat sambutan positif dengan lebih dari 13 ribu showtimes di seluruh jaringan bioskop di Indonesia. Angka ini menunjukkan
potensi besar untuk terus menambah jumlah penonton dalam minggu-minggu
mendatang.
Kesuksesan "Almarhum" menjadi
sinyal positif bagi industri film Indonesia di tahun 2025. Dengan pencapaian
ini, besar harapannya lebih banyak karya berkualitas akan terus hadir,
memperkuat posisi film nasional di hati penonton film Indonesia.

Komentar
Posting Komentar