Film Seribu Bayang Purnama dikemas secara ringan untuk memberikan sarana edukasi dan juga alternatif untuk memahami pentingnya bidang pertanian bagi bangsa Indonesia. Seluruh keuntungan tiket Film Seribu Bayang Purnama akan digunakan sepenuhnya untuk menjalankan program pemberdayaan petani.
Jakarta,
28 Juni 2025 – Untuk pertama kalinya dalam sejarah perfilman Indonesia, ada sebuah
film layar lebar yang mengangkat sepenuhnya problematika para petani di
pedesaan masa kini, yang mungkin tidak banyak diketahui oleh masyarakat
perkotaan. Film ini berjudul “Seribu Bayang Purnama” yang diproduksi
oleh Baraka Films, sebuah rumah produksi yang sudah berpengalaman membuat
film-film dokumenter.
Di dalam film ini diceritakan bagaimana sulitnya para petani
memperoleh modal untuk mengolah lahan mereka, antara lain karena mahalnya harga
pupuk dan pestisida kimia yang sudah biasa digunakan para petani. Akibatnya,
para petani terperosok ke dalam jeratan para rentenir yang menerapkan bunga
pinjaman selangit, sehingga para petani pun hidup dalam lingkaran kemiskinan
yang tak berkesudahan.
Nasib para petani yang kurang
beruntung inilah, yang menginspirasi Yahdi Jamhur, sutradara film Seribu
Bayang Purnama,
untuk mengangkat kegelisahan para petani masa kini ke dalam sebuah film, dengan
harapan masyarakat luas dapat lebih memahami derita para petani. Lantaran para
petani inilah, yang menjadi tiang utama atau tulang punggung pengadaan pangan
secara nasional.
Menurut Yahdi Jamhur, yang juga
founder Baraka Films, keinginan membuat film Seribu Bayang Purnama, dipicu oleh tantangan dan dukungan
penuh dari produser eksekutif film ini,
Joao Mota seorang penggiat pertanian alami dan sosok yang sangat peduli
dengan pertanian dan nasib petani Indonesia datang membawa ide cerita, kisah
sukses seorang petani muda di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berhasil
mempelopori Metode Tani Nusantara, sebuah metode pertanian alami yang mudah,
murah dan sederhana. Dengan menerapkan metode ini, para petani tidak perlu lagi
bergantung kepada para rentenir dan pupuk pestisida pabrikan berbahan baku
kimia yang harganya cukup mahal serta bisa menekan biaya pertanian hingga 80%.
Namun untuk menerapkan metode
pertanian alami di desa yang sudah sangat bergantung pada pupuk dan pestisida
pabrikan, tentunya tidak mudah. Perjuangan para perintis metode pertanian alami
pastinya mendapatkan perlawanan keras dari juragan penjual pupuk kimia
pabrikan, seperti yang digambarkan dalam film Seribu Bayang Purnama. Konflik antara pejuang tani alami
dengan juragan pupuk pabrikan, yang diwarnai kisah cinta yang juga problematik,
menjadi bagian paling menarik dalam film ini.
Sutradara Yahdi Jamhur berharap, film Seribu
Bayang Purnama hasil
karyanya ini, juga dapat menginspirasi generasi muda untuk terjun ke dunia
pertanian, seperti yang dicontohkan Putro Hari Purnomo, tokoh utama film ini.
Putro adalah seorang pemuda yang bertekad kembali dari kota ke kampung
halamannya, untuk menggerakkan para petani agar ikut menerapkan metode
pertanian alami.
Sesuai dengan pengalaman Yahdi Jamhur
yang cukup panjang sebagai jurnalis TV dan pembuat film-film dokumenter, film
yang dibuat dengan mengambil lokasi di sebuah desa desa di Yogyakarta ini,
dipenuhi dengan gambar-gambar sinematik yang indah dan eksotis, yang dapat
membuat para penonton merasa seakan berada di alam pedesaan yang mengingatkan
akan akar budayanya. Didukung alur cerita dan penokohan yang kuat, melalui
skenario yang ditulis oleh Swastika Nohara, yang pernah meraih dua Piala Maya
untuk kategori Penulis Skenario Terpilih, serta nominasi sebagai penulis
skenario terbaik pada ajang bergengsi FFI 2014. Film Seribu
Bayang Purnama akan
tayang serentak mulai 3 Juli 2025 di jaringan bioskop nasional.
Sinopsis
Seribu Bayang Purnama
Tokoh utama dari film ini adalah Putro
Hari Purnomo (Marthino Lio) seorang pemuda yang kembali ke desanya setelah
mengejar cita-cita di kota dan merupakan anak dari seorang petani bernama Budi
(Nugie). Putro bertekad memulai hidup baru di desa menggunakan metode pertanian
alami warisan sang ayah. Putro gigih mengajak warga desa lain menggunakan
metode alami karena terbukti bisa membantu petani mengurangi biaya produksi dan
meningkatkan hasil panen.
Namun niat baik Putro tidak berjalan
mulus. Ia mendapat tentangan dari saingan lama keluarganya di desa. Keluarga
ini bahkan menantangnya dalam kompetisi pertanian bergengsi, berebut pengaruh
dalam masyarakat. Saat Putro berjuang untuk membuktikan nilai pertanian alami
yang berkelanjutan, perjalanannya menjadi lebih rumit ketika ia menaruh hati
pada sosok Ratih (Givina), pemilik toko pupuk dan pestisida pabrikan yang juga
anak dari keluarga rivalnya.
Berada dalam kondisi yang menimbulkan
gejolak batin Putro terus berjuang untuk membawa perubahan bagi masyarakat
sambil menghadapi konflik pribadi dan sosial. Tekadnya untuk memperbaiki
kehidupan orang-orang disekitarnya mendapat ujian berat.
Tokoh-tokoh utama film ini
dipercayakan kepada beberapa nama pemeran yang memiliki karakter atau
personifikasi kuat seperti Marthino Lio, Givina, Whani Darmawan, Aksara Dena
serta Nugie.
“Pesan lain yang ingin disampaikan
adalah bumi pertiwi ini butuh sebuah cara, yaitu pertanian yang alami agar
terus bisa memberikan hasil bumi terbaik. Selain itu diharapkan juga banyak
generasi muda yang mulai tertarik untuk bertani karena bertani juga sebuah
pilihan hidup, bukan sebuah keterdesakan hidup seperti yang selama ini
terjadi.” tambah Yahdi. Film Seribu Bayang Purnama ini juga didedikasikan bagi para
petani yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. Bahkan seluruh keuntungan tiket film ini nantinya
akan digunakan sepenuhnya untuk menjalankan program pemberdayaan petani.
Metode pertanian alami yang digunakan pada film ini, pada praktiknya bisa diterapkan secara langsung karena minim biaya produksi sehingga bisa menambah penghasilan petani. Selain itu, dengan menggunakan metode pertanian alami, maka hasil pertanian yang dihasilkan akan menjadi lebih sehat untuk dikonsumsi. “Pesan utama yang kami coba sampaikan melalui film ini adalah ketahanan pangan merupakan salah satu kunci bagi kedaulatan negara Indonesia,” tutup Yahdi.
Film Seribu Bayang Purnama akan tayang serentak di jaringan bioskop nasional mulai tanggal 3 Juli 2025, seperti XXI, CGV,CINEPOLIS dan SAM’S STUDIO.
Tentang Baraka Films
Baraka Films adalah rumah produksi film yang berfokus pada pembuatan
film berkualitas yang menggugah kesadaran dan memberikan inspirasi. Dengan visi
menyajikan kisah-kisah yang dekat dengan masyarakat dan menggambarkan keragaman
budaya Indonesia, Baraka Films terus berinovasi dan menghadirkan karya yang
berdaya guna bagi pecinta film dan masyarakat luas.









Komentar
Posting Komentar