Film Esok Tanpa Ibu Berkompetisi di Busan Film Festival 2025, Dibintangi Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, dan Ali Fikry
Film Esok Tanpa Ibu memiliki judul internasional Mothernet.
Jakarta, 27 Agustus 2025—Film Indonesia berjudul Esok Tanpa Ibu, yang memiliki judul internasional Mothernet, persembahan BASE Entertainment dan Beacon Film terpilih untuk
berkompetisi di Busan International Film Festival (BIFF) 2025. Film yang
dibintangi Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, dan Ali Fikry tersebut akan
berkompetisi di program Vision.
Program Vision di BIFF memperkenalkan
karya-karya baru dari sinema independen Korea dan Asia sambil menemukan dan
mendukung sutradara-sutradara berbakat. Sebelumnya, program ini merupakan
bagian dari ‘Korean Cinema Today – Vision’, yang memainkan peran penting dalam
mempromosikan film-film independen Korea, bagian ini kini telah ditetapkan
sebagai program independen.
Sebanyak 23 judul film telah terpilih di
program Vision BIFF. Dengan rincian 12
film berada di dalam program Vision Korea dan 11 film terpilih ke dalam program
Vision Asia. Esok Tanpa Ibu (Mothernet)
terpilih dalam program Vision Asia. Dengan perluasan program ini, penghargaan
juga akan diperluas untuk memberikan dukungan yang lebih kuat bagi sutradara
dari Korea dan seluruh Asia.
Busan International Film Festival merupakan
festival film terbesar di Asia yang selama ini telah menjadi platform bagi para
sineas Asia dan dunia untuk menunjukkan karya-karya inovatif dan segar. Tahun
ini, menjadi edisi spesial karena menandai 30 tahun festival tersebut
berlangsung.
Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet)
mengikuti kisah Rama (Ali Fikry), remaja keras kepala yang merasa tidak ada
seorang pun di dunia ini yang bisa memahaminya. Satu-satunya orang yang ia
percaya adalah ibunya, pendukung terbesarnya di masa-masa remaja yang penuh
turbulensi. Namun ketika tragedi terjadi dan ia kehilangan ibunya, Rama harus
berusaha menjalani hidup seorang diri.
Tepat ketika ia merasa benar-benar sendirian,
bantuan datang secara tak terduga: I-BU, sebuah program AI ciptaan temannya,
yang dirancang untuk menghadirkan sosok penuh kasih layaknya ibunya. Di tengah
kesulitannya menghadapi ayahnya yang keras, Rama harus belajar apa arti berduka
dan melepaskan.
Film ini disutradarai oleh sutradara Malaysia
Ho Wi-ding, yang memenangkan Platform Prize di Toronto International Film
Festival 2018 melalui film ketiganya. Ia juga pernah memenangkan Best New
Director Award di Golden Horse Awards 2010 melalui film panjang debutnya.
Naskah Esok Tanpa Ibu ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa
Sjarief, serta diproduseri oleh Shanty
Harmayn, Dian Sastrowardoyo, Tanya Yuson, Aoura Lovenson, dan Winnie Lau. Film
ini sekaligus menjadi kolaborasi internasional antar negara yang akan membawa
universalitas tentang kisah keluarga dan kerapuhan remaja di tengah
perkembangan dunia yang tengah terjadi.
“Busan International Film Festival menjadi
platform yang tepat untuk menayangkan pertama kalinya film Esok Tanpa Ibu, sekaligus menjadi perayaan
sinema Asia. Film ini turut menjadi kolaborasi sineas di kawasan Asia dengan
visi yang mendorong batas-batas kreatif dan pesan mendalam tentang relasi anak
remaja dan orangtua,” ujar produser film Esok Tanpa Ibu Shanty Harmayn.
Produser Dian Sastrowardoyo, yang turut
memerankan karakter Ibu di film ini, mengungkapkan antusiasmenya. Film ini
menjadi proyek yang juga turut diproduksi oleh rumah produksi yang
didirikannya, Beacon Film. Terpilihnya Esok Tanpa Ibu akan menjadi babak baru dalam perjalanan rumah produksinya, juga
perjalanan awal film ini.
“Saya mengucapkan terima kasih pada Busan
International Film Festival yang telah percaya pada film ini, dan semoga bisa
memberikan kesegaran pada lanskap sinema Asia. Selain menjadi perjalanan rumah
produksi yang saya dirikan, Beacon Film, di film ini juga akan menjadi saksi
bagi audiens internasional untuk melihat bakat-bakat yang telah lama mendapat
pengakuan maupun bakat baru, termasuk Ali Fikry, yang menurut saya tampil
dengan sangat mengesankan,” ujar Dian Sastrowardoyo.
Ikuti perkembangan terbaru film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) melalui akun Instagram @base.id.
***
Tentang BASE Entertainment
BASE Entertainment adalah studio produksi terkemuka
di Asia Tenggara dengan kantor di Indonesia dan Singapura, didirikan oleh
Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, dan Ben Soebiakto.
Spesialis dalam produksi film dan serial berkualitas tinggi untuk penonton
global, studio ini berkolaborasi dengan talenta-talenta kreatif terbaik untuk
menghadirkan cerita dari Asia ke dunia, termasuk Perempuan Tanah Jahanam
(Impetigore) karya Joko Anwar yang tayang perdana di 2020 Sundance Film
Festival dan membawa piala terbanyak di Festival Film Indonesia di tahun yang
sama, Gadis Kretek (Cigarette Girl) serial orisinal Indonesia Netflix pertama
yang masuk ke daftar Top 10 Global Netflix, serial animasi orisinal Netflix
Asia Tenggara pertama Trese, serta Petualangan Sherina 2 (Sherina’s Adventure
2) yang memecahkan rekor box office di Indonesia. Dengan komitmen kuat pada
inovasi cerita, BASE Entertainment terus mengembangkan produksi-produksi
berkualitas yang menjembatani narasi regional dengan daya tarik global.
Tentang BEACON FILM
BEACON FILM adalah rumah produksi yang
berbasis di Jakarta, didirikan oleh Dian Sastrowardoyo, salah satu aktris
Indonesia yang paling dikenal saat ini. Selain karier aktingnya yang gemilang,
termasuk dalam film ikonik Ada Apa Dengan Cinta?, Dian juga mulai merambah
dunia produksi dengan karya seperti Guru-Guru Gokil, yang tayang perdana di
Netflix. Pada tahun 2023, Dian bergabung dengan Rio Pasaribu dan Hizkia Nararya
untuk mendirikan BEACON FILM, membuka babak baru yang menjanjikan bagi
perfilman Indonesia. Mothernet, proyek perdana mereka, akan menampilkan bakat
dan visi mereka untuk membawa film-film berkualitas Indonesia ke dunia
internasional.

Komentar
Posting Komentar