Film Tukar Takdir Merilis Official Trailer Ketika Nicholas Saputra Dihukum Rasa Bersalah Terjebak di Antara Duka dan Amarah Marsha Timothy & Adhisty Zara
Film Tukar Takdir akan turut hadir di Asian Contents & Film Market Busan International Film Festival. Tayang di bioskop Indonesia mulai 2 Oktober 2025.
Jakarta, 14 September 2025—Mouly Surya kembali hadir dengan karya menyegarkan terbarunya, Tukar Takdir. Sebuah film drama petaka
pesawat persembahan Starvision dan Cinesurya, bekerja sama dengan Legacy
Pictures, yang akan tayang di bioskop mulai 2 Oktober 2025.
Menjelang tayang, film Tukar Takdir merilis official trailer yang mengikuti kisah Rawa
(Nicholas Saputra), satu-satunya penumpang pesawat yang selamat dari petaka
Jakarta Airways 79. Penerbangan Jakarta Airways 79 hilang kontak dan ketika
ditemukan, Rawa adalah satu-satunya penumpang yang selamat membawa pulang
luka-luka dan trauma. Selain menjadi saksi dalam investigasi jatuhnya pesawat,
Rawa juga menjadi penyambung duka maupun amarah putri tunggal dari pilot, Zahra
(Adhisty Zara) dan istri penumpang yang bertukar tempat duduk dengannya, Dita
(Marsha Timothy).
Official trailer Tukar Takdir mengikuti perjalanan Nicholas
Saputra sebagai Rawa yang justru dihukum rasa bersalah. Ia selalu memendam
pertanyaan mengapa hanya dirinya yang selamat. Hukuman rasa bersalah itu
semakin bertambah saat ia bertemu dengan keluarga dari para korban Jakarta Airways
79 seperti Dita yang meluapkan amarah, serta Zahra yang masih terus berduka.
Namun, di antara perasaan-perasaan itu, ada yang janggal. Simpati yang berujung
pada empati, dan pada akhirnya membawa sepercik romansa.
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya
Valiant Budi, film Tukar Takdir akan
menjadi sajian segar dan baru untuk perfilman Indonesia yang mengangkat tentang
drama petaka pesawat. Sebuah tema cerita yang relevan dengan penonton
Indonesia, dan belum banyak dieksplorasi oleh sineas Indonesia.
“Tukar Takdir hadir dengan genre yang baru di perfilman Indonesia. Pesawat tentunya
menjadi transportasi umum yang sudah sangat familiar dengan kita, termasuk
berbagai peristiwa yang terjadi, di antaranya petaka yang merenggut korban
jiwa. Membuat film drama petaka pesawat tentunya bukan hal yang mudah. Semoga
karya ini bisa menjadi cerminan baru bagi kita, melalui pergulatan emosi dari
para karakternya yang harus menghadapi trauma dan melanjutkan kehidupan,” ujar produser Tukar Takdir Chand
Parwez Servia.
Diproyeksikan untuk diproduksi sejak 2019,
film Tukar Takdir
akhirnya rilis tahun ini. Film ini juga terpilih untuk menjadi bagian dari
Asian Contents & Film Market (ACFM), yang menjadi bagian dari Busan
International Film Festival (BIFF) 2025. ACFM akan berlangsung pada 20–23
September 2025.
ACFM adalah pasar konten komprehensif utama
di Asia yang menjadi platform bagi film, serial, animasi, publikasi, webtoon,
novel web, dan konten berbasis AI dipamerkan dan diperdagangkan. Diadakan
setiap tahun bersamaan dengan BIFF, ACFM mengumpulkan kreator, pembeli,
produser, agen penjualan, dan investor global untuk berbagi wawasan industri
terbaru dan membangun kemitraan bisnis strategis.
“Film ini hadir dengan genre berbeda, dan
semoga juga menjadi kontribusi kami untuk perfilman Indonesia yang saat ini
tengah bertumbuh baik dan sudah bisa menerima karya-karya yang baru dan segar.
Semoga juga diterima oleh banyak penonton saat tayang di bioskop Indonesia,” tambah produser Tukar Takdir Rama Adi.
Penulis dan sutradara Tukar Takdir Mouly Surya mengungkapkan, ia
memang memiliki minat pada karya-karya bertema kecelakaan pesawat dan
kasus-kasus yang terjadi di dunia penerbangan internasional. Meski demikian, Tukar Takdir menjadi sebuah karya yang
benar-benar baru baginya.
“Film Tukar Takdir adalah karya yang baru bagi saya dan belum pernah dibuat sebelumnya.
Selain drama petaka pesawat, ada drama yang kental dan melibatkan banyak
karakter di dalamnya. Film ini juga berbicara tentang kedukaan, trauma, dan
kesembuhan menuntun para karakternya untuk memiliki koneksi di tengah situasi
putus asa,” ujar sutradara dan penulis Tukar Takdir Mouly Surya.
Nicholas Saputra, yang memerankan Rawa
mengungkapkan cerita di film ini akan terasa sangat dekat dan meyakinkan.
Melalui benang merah musibah, akan menjadi jalan penonton menaruh empati ke
para karakternya.
“Cerita di film ini relate dengan banyak orang. Rawa adalah salah
satu representasi orang yang berhadapan dengan musibah. Dan tokoh-tokoh lain di
film ini juga pastinya akan merepresentasikan perasaan dan situasi yang juga
banyak dialami oleh kita,” ujar Nicholas Saputra.
“Memerankan Dita bagi saya adalah karakter
yang cukup berat. Dita merepresentasikan orang yang menghadapi musibah dan duka
dengan kehidupan. Saya adalah salah satu orang yang takut dengan pembicaraan
tentang petaka pesawat. Dengan film ini, ini menjadi salah satu cara untuk bisa
mengatasi ketakutan, dengan cara menghadapinya,” tambah Marsha
Timothy.
Tonton film drama petaka pesawat Tukar Takdir mulai 2 Oktober 2025. Ikuti perkembangan terbaru film Tukar Takdir melalui akun Instagram
@tukartakdirfilm, @starvisionplus, @cinesurya, dan Tiktok @StarvisionMovie.
***
Sinopsis
Penerbangan Jakarta Airways 79 hilang kontak
dan ketika ditemukan, RAWA (Nicholas Saputra) adalah satu-satunya penumpang
yang selamat membawa pulang luka-luka dan trauma. Selain menjadi saksi dalam
investigasi jatuhnya pesawat, Rawa juga menjadi penyambung duka maupun amarah
putri tunggal dari pilot, ZAHRA (Adhisty Zara) dan istri penumpang yang bertukar
tempat duduk dengannya, DITA (Marsha Timothy).
Pemain & Tim Produksi
|
Nicholas Saputra |
Rawa |
|
Marsha Timothy |
Dita |
|
Adhisty Zara
|
Zahra |
|
Meriam Bellina |
Shinta |
|
Marcella Zalianty |
Damianti |
|
Teddy Syach
|
Raldi |
|
Roy Sungkono |
Dimas |
|
Ariyo Wahab
|
Purwanto |
|
Revaldo
|
Adam |
|
Hannah Al Rashid |
Patricia |
|
Ayez Kassar
|
Pak Mukhsin |
|
Devi Permatasari |
Dr. Vita |
|
Tora Sudiro
|
Dirga |
|
Ringgo Agus Rahman |
Adrian |
|
Bagus Ade Saputra |
Bambang |
|
Produksi
|
Starvision |
|
|
Cinesurya |
|
|
Legacy Pictures |
|
Produser
|
Chand Parwez Servia |
|
|
Riza |
|
|
Rama Adi |
|
|
Mithu Nisar |
|
Sutradara
|
Mouly Surya |
|
Produser Eksekutif |
Reza Servia |
|
|
Amrit Dido Servia
|
|
|
Raza Servia |
|
|
Fauzan Zidni |
|
|
Lisbeth Simarmata |
|
Produser Lini
|
Daniel Kristianto |
|
Penulis Skenario |
Mouly Surya |
|
Berdasarkan Novel Karya |
Valiant Budi (Vabyo) |
|
Desain Produksi |
Teddy Setiawan |
|
Penata Kamera |
Roy Lolang, I.C.S |
|
Penyunting Gambar |
Ahmad Yuniardi |
|
Penata Suara
|
Satrio Budiono |
|
Perekam Suara |
M Yusuf Patawari |
|
Penata Musik
|
Yudhi Arfani |
|
|
Zeke Khaseli |
|
Penata Warna |
In My Room |
|
Penata VFX |
Skybox |
|
|
Exodusfx |
|
|
Dalang Digital Studio |
|
Penata Grafis
|
Mataque Studio |
|
Penata Rias
|
Gunawan Saragih |
|
Penata Busana |
Karin Wijaya |
|
Penata Peran
|
Arif Havidz Sapto Soetarjo A.C.I |
|
Perancang Poster |
Alvin Hariz |
|
OST
|
Temani Aku – Sheila On 7 |
Tentang Starvision
Starvision merupakan salah satu rumah
produksi film dan televisi paling berpengaruh dan terkemuka di Indonesia,
dengan rekam jejak lebih dari tiga dekade dalam membentuk lanskap hiburan
nasional. Di bawah kepemimpinan visioner pendiri sekaligus produser Chand Parwez Servia, perusahaan ini dikenal
konsisten menghadirkan kisah-kisah yang mampu menyentuh dan dekat dengan hati
penonton Indonesia.
Setiap tahunnya, Starvision merilis sekitar
sepuluh judul film layar lebar, menjadikannya salah satu pemain paling stabil
dan dapat diandalkan di pasar film nasional. Keistimewaan Starvision terletak
pada keberanian untuk berinvestasi secara mandiri di seluruh proyeknya, sebuah
komitmen yang menegaskan kemandirian kreatif sekaligus kualitas dan konsistensi
dalam setiap produksi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Starvision
telah melahirkan sejumlah film box office yang sukses besar dan banyak
diperbincangkan, di antaranya Petaka Gunung Gede, Sekawan Limo,
172 Days, Komang, Imperfect, Cek Toko Sebelah, dan Dua Garis Biru. Film-film tersebut menunjukkan kekuatan Starvision dalam menghadirkan
hiburan yang tidak hanya komersial, tetapi juga penuh makna—meneguhkan posisi
Starvision sebagai nama terpercaya bagi penonton, mitra, maupun kolaborator di
industri perfilman Indonesia.
Tentang Cinesurya
Cinesurya, didirikan pada tahun 2007, adalah
sebuah rumah produksi di Jakarta yang digarap oleh produser Rama Adi, Fauzan
Zidni, dan sutradara Mouly surya. Cinesurya memenangkan penghargaan Piala Citra
lewat film pertamanya, “Fiksi” (2007) serta “Marlina si Pembunuh dalam Empat
Babak” (2017), yang juga menuai banyak pujian di skala internasional dengan
penayangan perdana di Directors’ Fortnight, Cannes Film Festival. Selain itu,
di tahun 2013, “What They Don’t Talk About When They Talk About Love” juga menjadi
film pertama dari Indonesia yang berkompetisi di festival film independen
terbesar di Amerika Utara, Sundance Film Festival. Kini, sebagai anggota
Directors Guild of America (Perserikatan Sutradara di Amerika Serikat),
co-founder Mouly Surya telah merintis karir internasionalnya dengan
menyutradarai film “Trigger Warning”, sebuah produksi Netflix US yang
dibintangi Jessica Alba, dan sukses menjadi 10 film teratas Netflix yang paling
banyak ditonton di seluruh dunia pada tahun 2024.
Tentang Legacy Pictures
PT LEGACY FILM berdiri sejak tahun 2011 dan
merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang Perfilman dan Perekaman
Video.
Pada Tahun 2011-2017 PT LEGACY FILM memproduksi Film dan mulai tahun 2018, Legacy aktif melakukan Investasi film. “PENGABDI SETAN”, “AGAK LAEN”, “PETUALANGAN SHERINA 2” dan "THE ARCHITECTURE OF LOVE (TAOL)" merupakan beberapa film box office dari LEGACY.







Komentar
Posting Komentar