Film Pangku Merilis Official Trailer & Poster: Kisah Menyentuh Seorang Ibu dalam Perjuangan Bertahan Hidup
Jakarta, 8 Oktober 2025 – Setelah sukses tayang perdana (world premiere) dan berkompetisi di
Busan International Film Festival (BIFF) 2025 dengan empat penghargaan, film
persembahan Gambar Gerak, Pangku yang
menjadi debut penyutradaraan Reza Rahadian merilis official trailer & poster yang menyentuh.
Official poster
film Pangku menampilkan
Claresta Taufan yang tengah dipangku oleh Fedi Nuril, sambil memegang segelas
kopi. Sementara itu, di belakang keduanya Christine Hakim dengan senyuman
membelai Shakeel Fauzi. Keempatnya berada dalam sebuah warung kopi dengan lampu
kuning temaram.
Official trailer
film Pangku
menampilkan perjalanan Claresta Taufan sebagai Sartika yang tengah mencari
kerja saat ia tengah hamil besar. Ia kemudian tinggal dan ditampung oleh Maya
(Christine Hakim), di sebuah rumah di kawasan Pantura yang dekat dengan
pesisir. Mulanya, ditampilkan Sartika bahkan sampai harus bekerja keras di
sawah.
Melihat Sartika yang begitu kepayahan, Maya
menawarkan untuk Sartika mencari tambahan uang di warung kopinya. Tugasnya,
menyajikan kopi ke pelanggan yang datang namun sambil dipangku oleh
mereka—merujuk pada sebuah tradisi kopi pangku yang ada di Pantura. Keputusan
yang berat, karena seiring berjalannya waktu, anak yang dikandung Sartika, Bayu
(Shakeel Fauzi) beranjak besar dan tak menginginkan ibunya bekerja dengan
kondisi tersebut.
Trailer film Pangku menampilkan sebuah gambaran yang penuh kasih dari perjuangan seorang
ibu untuk bertahan hidup dan membesarkan sang anak. Di trailer juga ditampilkan
Fedi Nuril yang memerankan Hadi, seorang sopir yang menjadi langganan kopi
pangku Sartika dan kemudian keduanya punya mimpi bersama. Devano Danendra
sebagai Gilang juga ditampilkan dalam trailer, yang menjadi teman bermain Bayu
dalam membuat layangan, sebuah hiburan dari kerasnya kehidupan mereka. Lagu Rayuan Perempuan Gila dari Nadin Amizah
mengalun seirama yang menambah nuansa trailer kian hidup.
“Apa yang dialami Sartika dalam film Pangku adalah ia hanya mencoba untuk bertahan
hidup. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri kemalangan dan kesusahan yang
dialaminya. Semua berjalan seperti rutinitas keseharian menjalani kehidupan.
Dan bagaimana ia membesarkan anaknya, itulah yang mendorong Sartika untuk
bertahan,” ujar penulis dan sutradara film Pangku Reza Rahadian.
Ditulis bersama Felix K. Nesi, Reza Rahadian
terinspirasi dengan kehidupan dan cara bertahan hidup para perempuan dan ibu di
kawasan Pantura yang mencari cara bagaimana mereka bisa bertahan hidup di
tengah situasi ekonomi yang dihadapi. Kopi Pangku menjadi salah satu jalan
pilihan mereka bertahan. Dalam menulis cerita ini, Reza pun banyak melakukan
riset mendalam selama perjalanannya.
Di film ini, Reza menghadirkan latar cerita
pada tahun 1998, saat terjadi krisis moneter. Film ini, yang menjadi surat
cinta Reza untuk sang ibu yang juga telah berjuang membesarkannya seorang diri,
mengungkapkan masa itu menjadi salah satu ingatannya yang paling kuat.
“Pada masa itu, Ibu saya kehilangan
pekerjaan. Dan di tengah krisis yang terjadi ia dengan gigih mencari pekerjaan
dari satu gedung ke gedung lainnya. Bagi saya, era itu (1998) adalah masa yang
sangat memilukan,” kata Reza yang juga merefleksikan situasi tersebut dalam
film Pangku.
Diproduseri oleh Arya Ibrahim dan Gita Fara,
sebelumnya film Pangku yang
memiliki judul internasional On Your Lap memenangkan empat penghargaan di Busan International Film Festival
(BIFF) 2025. Berkompetisi di program Vision
Asia, Pangku memenangkan KB Vision Audience Award, FIPRESCI Award, Bishkek
International Film Festival-Central Asia Cinema Award, dan Face of the Future
Award.
Seusai pemutaran di Busan, banyak dari
penonton film Pangku yang
mengungkapkan secara langsung film ini sangat dekat dengan mereka. Tema tentang
perempuan dan seorang ibu yang berjuang dianggap memiliki kedekatan dengan
banyak orang dan menjadi sebuah cerita universal dapat menyentuh dan
beresonansi dengan penonton dari berbagai dunia.
Film ini juga mendapat penerimaan positif
dari berbagai kritikus dan media internasional. Asian Movie Pulse menulis
ulasan tentang film Pangku yang
disebut mampu menghadirkan gambaran yang penuh kasih dan realistis tentang
bertahan hidup.
“Didukung
oleh akting yang kuat dan pandangan yang terus terang terhadap sisi masyarakat
Indonesia yang jarang diangkat,” tulis
AsianMoviePulse.
Penampilan Claresta Taufan dan Christine
Hakim di film ini juga mendapat pujian. AsianMoviePulse menulis Claresta tampil
luar biasa sebagai Sartika. Chemistry Claresta dan Christine Hakim pun disebut
berada pada level tertinggi.
“Menampilkan seorang perempuan yang
perjuangan dan harapannya saling berbenturan, dalam potret yang agak menarik,
dan dalam peran yang cukup sulit,” tulis AsianMoviePulse mengenai
peran Claresta Taufan.
“Christine Hakim sebagai Maya juga bagus,
sebagai perempuan yang kecewa, yang tahu apa yang perlu dilakukan untuk
bertahan hidup. Ambiguitas karakternya digambarkan dengan semangat.”
Programmer BIFF, Park
Sungho, memberikan catatan terhadap film Pangku
sebagai sebuah film yang memiliki
pandangan yang pedih tentang perjuangan intim seorang perempuan dan pegangan
rapuhnya pada harapan di tengah krisis.
Film Pangku dibintangi oleh Claresta Taufan, Christine Hakim, Fedi Nuril, Shakeel
Fauzi, Devano Danendra, Yose Rizal Manua, Lukman Sardi, Djenar Maesa Ayu, Kaan
Lativan, Reza Chandika, Tj Ruth, Nazira C Noer, dan Galabby.
Film Pangku tayang mulai 6 November 2025 di bioskop Indonesia. Ikuti terus
informasi terkini film Pangku
melalui akun-akun media sosial resminya.
***
Sinopsis
Sartika (Claresta Taufan), seorang perempuan
muda yang sedang hamil, pindah dari kota asalnya dengan harapan bisa memberikan
masa depan yang lebih baik bagi anaknya. Ia bertemu dengan Maya (Christine
Hakim), pemilik kedai kopi di Pantura. Maya merawat Sartika dan membantu
persalinannya. Setelah Sartika melahirkan, Maya merayunya bekerja menyuguhkan
kopi sambil dipangku, hingga suatu hari Sartika bertemu dan jatuh cinta dengan
sopir truk distributor ikan bernama Hadi (Fedi Nuril). Akankah Sartika menemukan
kebahagiaannya?


Komentar
Posting Komentar