Aksi ‘Trio Gagak’ Bikin Ngakak Mulai 13 November 2025 Di Bioskop
Jakarta, 6 November 2025 - Cerita tentang pesugihan sering kali identik dengan tumbal manusia
dan kisah yang mencekam. Namun, film terbaru produksi Cahaya Pictures dan BASE Entertainment, berkolaborasi dengan PK Films, Arendi, Laspro, IFI Sinema, dan Anami Films, berjudul Pesugihan Sate Gagak, justru mengemas tema itu dalam balutan komedi horor super ringan yang
menjadi obat penghilang stres buat penonton.
Hidup susah, utang menumpuk, dan cinta
terancam gagal. Itulah nasib trio gagak, Anto (Ardit Erwandha), Dimas (Yono Bakrie), dan
Indra (Benidictus Siregar) yang menjadi awal kisah Pesugihan Sate Gagak. Mereka pun resmi capek
miskin!
Selain dibintangi oleh Ardit Erwandha, Yono
Bakrie, dan Benidictus Siregar sebagai pemain utama, film ini juga didukung
oleh Yoriko Angeline, Nunung, Arief Didu, Firza Valaza, serta diramaikan Arif
Alfiansyah, Ence Bagus, Niniek Arum, Akbar Kobar dan Ciaxmen.
Pesugihan
Tanpa Tumbal, Demit Sakau Sate!
Jika biasanya makhluk halus dalam cerita
pesugihan mengejar nyawa manusia, di film ini mereka malah antre layaknya
pembeli setia warung. Ritual telanjang, hantu-hantu ketagihan, dan kekacauan
absurd di warung sate menjadi sumber tawa sepanjang film.
Anto butuh mahar puluhan juta demi menikahi
kekasihnya, Dimas ingin menolong usaha ibunya, dan Indra terjerat pinjol sampai
leher. Dalam keputusasaan itu, mereka menemukan buku mantra pesugihan kuno
peninggalan kakek Indra. Dari situ lahir ide paling gila: coba pesugihan tanpa
tumbal, cukup jual sate dari daging burung gagak ke demit! Namun bukannya
berakhir bahagia, para demit justru ketagihan sate dan terus datang menagih.
Aksi Kocak Trio Gagak & Pengalaman Jadi Pemeran Utama
Kekuatan film ini bertumpu pada tiga komika
ternama: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benedictus Siregar yang berperan sebagai Trio Gagak. Untuk pertama kali, ketiganya tampil
sebagai pemeran utama dalam satu film layar lebar. Chemistry alami mereka
memunculkan dinamika persahabatan yang cair dan komedi yang spontan membuat
setiap adegan terasa hidup, lucu, sekaligus hangat di tengah absurditas cerita.
Terlebih beradu akting dengan kondisi telanjang menjadi tantangan tersendiri
bagi para pemain.
“Berakting komedi sudah biasa saya lakukan di
film-film sebelumnya, tapi berakting komedi sekaligus horor sambil telanjang,
sepertinya cuma akan terjadi di film ini,” ujar Ardit Erwandha, pemeran Anto.
“Ini jadi tantangan sekaligus cara saya keluar dari zona nyaman. Buat kami
bertiga, ini bentuk totalitas dan keseriusan sebagai aktor.”
Yono Bakrie menambahkan bahwa ini adalah
kesempatan langka baginya untuk dipercaya sebagai pemeran utama. Sebelumnya, ia
lebih sering tampil sebagai pemeran pendukung atau cameo. Ia juga mengakui
bahwa cerita film ini sangat dekat dengan pengalaman hidupnya di masa lalu.
“Nyari duit susah itu memang benar adanya.
Sebelum merantau ke Jakarta, saya pernah mengalami berbagai kesulitan ekonomi
dan harus membantu orang tua agar bisa bertahan hidup. Kedekatan saya dengan
cerita ini sangat membantu saya dalam mendalami karakter Dimas”, kata Yono.
Sementara itu, Benidictus Siregar mengakui
bahwa proyek ini terasa sangat spesial baginya. Dari berbagai peran yang pernah
ia mainkan, Beni lebih sering tampil dalam genre komedi. Namun, di film ini ia
justru ditantang untuk menampilkan sisi drama yang jarang ia eksplor
sebelumnya.
“Meskipun unsur komedinya cukup kuat dan saya
juga banyak bertemu dengan para komika, di film ini ternyata saya harus
menampilkan adegan drama — sesuatu yang jarang saya lakukan sebelumnya. Itu
yang membuat Pesugihan Sate Gagak jadi salah satu proyek yang paling spesial sepanjang karir berakting
saya”, ungkap Beni.
Debut Penyutradaraan Dua Sutradara Berbakat
Pesugihan Sate Gagak menjadi panggung debut
penyutradaraan layar lebar bagi Etienne Caesar (EC) dan Dono Pradana (Dono).
Sebelumnya, Etienne telah berpengalaman sebagai asisten sutradara di berbagai
produksi film, sementara Dono dikenal sebagai kreator konten sekaligus komika
asal Surabaya. Keduanya membawa kekuatan tersendiri dalam menggarap film ini.
Dengan bekal pengalamannya, Etienne Caesar
berhasil menghadirkan rangkaian adegan yang membekas dan mampu mengarahkan para
pemain untuk tampil maksimal terutama keluar dari zona nyaman mereka di ranah
komedi menjadi drama.
“Salah satu adegan yang menurut saya luar
biasa adalah adegan drama yang dimainkan oleh Trio Gagak. Kemampuan tiga aktor
itu keluar dari zona nyaman mereka patut diapresiasi. Bagi saya, adegan yang
baik tidak hanya lahir dari komposisi teknis yang mumpuni, tetapi juga dari
permainan emosi para pemainnya,” jelas EC, yang sebelumnya pernah bekerja sama
dengan Ernest Prakasa.
Melengkapi visi penyutradaraan EC, Dono Pradana berangkat dari sensitivitasnya
dalam membaca keresahan banyak orang terhadap tekanan hidup, utang, dan
keinginan untuk cepat sukses. Melalui film ini, Dono ingin menghadirkan potret
sosial dengan cara yang ringan, dekat, dan tetap menghibur.
“Buat saya, film ini bukan tentang
menghalalkan pesugihan, tapi tentang bagaimana orang bisa tersesat ketika
terlalu tertekan oleh hidup. Lewat pendekatan komedi, kami ingin mengajak
penonton melihat realitas itu dengan cara yang ringan dan mudah. Hal yang
ringan dan mudah dalam hidup ini ya tertawa bersama,” tutur Dono.
Relevansi Nyata Potret Masyarakat
Meski dikemas dengan humor yang ngawur dan
absurd, Pesugihan Sate Gagak sejatinya menyoroti realitas sosial yang sangat
dekat dengan kehidupan banyak orang Indonesia. Desakan ekonomi, tekanan sosial
untuk terlihat sukses, hingga mentalitas “yang penting cepat kaya” menjadi
latar yang relevan dan mudah dikenali penonton.
“Premis tentang para demit yang ketagihan
sate, dipadukan dengan ritual absurd yang mengharuskan pesertanya telanjang,
menjadi alasan utama kenapa kami di Cahaya Pictures begitu jatuh cinta pada
cerita ini. Ada keabsurdan, kegilaan, namun juga jadi potret sosial masyarakat
sekarang. Ini pure bukan film
horor, tapi sebuah feel good movie
yang akan mudah disukai banyak orang. Kami berharap film ini bukan cuman
sebagai film, tapi juga punya pesan positif dan jadi optimisme di tengah
kesulitan ekonomi yang dialami banyak orang”, papar Aoura Lovenson, produser film Pesugihan Sate Gagak.”
Selain itu, film ini harapannya bisa
menyadarkan penonton jika sesuatu yang niatnya benar namun dilakukan dengan
cara yang salah maka akan berakhir tidak baik. Maka, cara instan yang salah
seharusnya diganti dengan kerja keras dan rasa syukur.
Pesugihan Sate Gagak akan tayang serentak di
bioskop seluruh Indonesia mulai 13 November 2025, dan pembelian tiket untuk
hari pertama sudah bisa dilakukan mulai 9 November 2025.
Awas Ketagihan!
SINOPSIS PESUGIHAN SATE GAGAK
Hidup susah, utang menumpuk, dan cinta
terancam gagal — tiga sahabat Anto (Ardit Erwand ha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benidictus Siregar) alias Trio Gagak resmi
capek miskin!
Anto butuh mahar puluhan juta demi menikahi
kekasihnya Andini (Yoriko Angeline), Dimas ingin menolong usaha ibunya, dan Indra terjerat pinjol sampai
leher.
Dalam
keputusasaan itu, mereka menemukan buku mantra pesugihan kuno
peninggalan kakek Indra. Dari situ lahir ide paling
gila: coba pesugihan tanpa tumbal — cukup jual sate dari daging burung gagak ke demit!
Awalnya mereka nekat mencoba jalan pintas
agar bisa keluar dari lilitan hidup — dan tiba-tiba, pembeli pertama mereka
datang... bukan dari dunia manusia! Genderuwo, pocong, sampai kuntilanak antre
dan rela bayar mahal untuk sate gagak mereka.
Trio Gagak mendadak kaya raya: utang lunas,
hidup mapan, bahkan cinta Anto dan Andini sempat terasa bahagia. Tapi
kebahagiaan itu tak berlangsung lama — rahasia pesugihan yang disembunyikan,
perlahan menghancurkan semuanya. Tawa mereka berubah jadi ketakutan saat para
demit tak berhenti datang dan terus menagih sate — lapar, rakus, dan tak
terkendali!
Apakah mereka akan lanjutkan pesugihan demi
kekayaan, atau kabur sebelum dimakan keserakahan?
INFORMASI FILM
Judul: Pesugihan Sate Gagak
Genre: Komedi Horor
Sutradara: Etienne Caesar & Dono Pradana
Penulis: Nuugro Agung
Produser: Aoura Lovenson Chandra, Fauzar
Nurdin
Pemeran: Ardit Erwandha, Yono Bakrie,
Benidictus Siregar, Yoriko Angeline, Nunung,
Arief Didu, Firza Valaza
Produksi: Cahaya Pictures
Rilis bioskop: 13 November 2025
CAHAYA PICTURES
Cahaya Pictures adalah rumah produksi yang
berkomitmen menghadirkan kisah-kisah feel good yang mampu menghangatkan hati
dan memberikan harapan baru bagi penontonnya. Setiap film yang diproduksi
Cahaya Pictures selalu mengandung semangat “light at the end of
the tunnel” — keyakinan bahwa di balik setiap
tantangan, selalu ada secercah cahaya yang menuntun kita pada akhir yang lebih
baik.
Melalui karya-karyanya, Cahaya Pictures ingin
menginspirasi penonton untuk melihat sisi terang dalam kehidupan, serta
menumbuhkan rasa optimisme dan kebersamaan lewat cerita-cerita yang relevan
dengan pengalaman masyarakat Indonesia.
PK FILMS
PK Films merupakan
manifestasi strategis terbaru dari PK Entertainment Group, sebuah nama yang
telah mengukir jejak gemilang selama satu dekade terakhir dalam membangun dan
mengembangkan industri kreatif (konser, hiburan, dan event) di Indonesia.
Dengan pengalaman panjang dalam menghadirkan hiburan berkualitas tinggi, PK
Films hadir sebagai langkah strategis untuk turut serta mengembangkan ekosistem
perfilman Indonesia.
Film "Agen +62"
merupakan salah satu karya yang telah diluncurkan oleh PK Films, bukti nyata
dedikasi kami untuk menghadirkan karya bagi para penikmat film di Indonesia dan
dunia.
PK Films terus menjalin
kolaborasi strategis dengan talenta paling cemerlang dan rumah produksi
terkemuka di tanah air, demi mendorong kemajuan industri film nasional ke
tingkat global.
Proyek mendatang kami,
"Sate Gagak", sebuah kolaborasi seru dengan BASE Entertainment!
Bersiaplah untuk pengalaman komedi yang santai dan segar yang akan memukau
penonton.
ARENDI CIPTA INTERNASIONAL
Arendi berdedikasi untuk
menciptakan seni pertunjukan dan pengalaman edutainment yang dinamis. Sejak
awal berdirinya, ARENDI telah berkembang menjadi salah satu lembaga seni dengan
pertumbuhan tercepat di Jakarta, yang berdedikasi pada misi memberikan
pengalaman seni pertunjukan tingkat tertinggi – pendidikan dan pelatihan seni
pertunjukan terbaik di Indonesia.
Arendi melibatkan siswa
dengan seni pertunjukan dan komunitas kreatif lokal dan internasional. Arendi
baru-baru ini mengikuti kompetisi internasional ternama seperti Asia Pacific
Arts Festival, untuk mewakili Indonesia
dan membawa pulang Distinction Award, Gold Awards, dan Silver Awards.
Memberdayakan siswa melalui serangkaian program pelatihan terkonsentrasi,
lokakarya interaktif, program kompetisi, kelas master dan acara musik khusus
lainnya.
LASPRO MEDIA SINEMA
Laspro Media Sinema adalah
perusahaan penyewaan peralatan film dan televisi terbesar dan terlengkap di
Indonesia. Sejak berdiri, Laspro telah menjadi mitra utama bagi rumah produksi,
stasiun televisi, dan sineas-sineas terkemuka di Tanah Air dalam merealisasikan
karya-karya visual berkualitas tinggi.
Dengan dukungan teknologi
terkini dan tim teknis profesional berpengalaman, Laspro menyediakan beragam
peralatan produksi—mulai dari kamera sinema digital, lensa sinematik,
pencahayaan profesional, grip & rigging, hingga sistem audio dan monitoring
mutakhir. Komitmen kami adalah menghadirkan solusi teknis yang andal,
fleksibel, dan berkualitas tinggi, serta memberikan solusi cepat untuk semua
kebutuhan produksi—mulai dari skala kecil hingga megaproduksi layar lebar.
Mengusung tagline "High Quality, Fast Solution",
Laspro selalu mengutamakan pelayanan unggulan dan efisiensi untuk mendukung
kesuksesan setiap proyek produksi.
Kami bangga telah menjadi
bagian dari ratusan produksi film, serial, dokumenter, iklan, hingga tayangan
live TV berskala nasional maupun internasional.
IFI SINEMA
IFI Sinema telah
berkecimpung dalam industri sejak tahun 2007 melalui film-film produksinya
berjudul ‘Coklat Stroberi’ (2007), ‘Radit dan Jani dan ‘3 Doa dan 3 Cinta
(2008), ‘Coblos Cinta’ (2008), ‘Serigala Terakhir’ (2009), ‘Lovely Man’ (2012),
‘Mika’ (2013),‘Pertaruhan’ (2017), ‘My Generation’ (2018), ‘Menunggu Pagi’
(2019), ‘Seperti Hujan yang Jatuh di atas Bumi’ (2020), ‘Akad’ (2021); ‘Mohon
Doa Restu’ (2024); saat ini IFI Sinema juga berperan aktif dalam pembiayaan
film nasional
ANAMI FILMS
Anami Films didirikan pada
Februari 2018 sebagai bagian dari KNS Group of Companies di Indonesia, yang
memiliki jangkauan global dengan kantor di Singapura, India, Australia, Dubai,
dan Afrika, mencakup berbagai industri seperti hiburan, perbankan & keuangan,
properti & real estate, perdagangan & distribusi, serta manufaktur.
Di Anami Films, kami
berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang luar biasa, baik untuk
layar lebar maupun platform Over-the-Top (OTT) serta berbagai media lainnya.
Dengan dedikasi tinggi terhadap kreativitas dan ketepatan, kami menyuntikkan
setiap proyek dengan perpaduan semangat dan inovasi, memastikan setiap adegan
mampu memikat dan menginspirasi penonton di berbagai platform.
Kami telah merilis berbagai film seperti Hotel Mumbai (saat ini tayang di Netflix), Pretty Boys, AIB Cyberbully, dan Kalian Pantas Mati (saat ini juga tayang di Netflix), Kuasa Gelap, Bayang-Bayang Anak Jahanam, serta beberapa judul OTT seperti Kitab Kencan (Vidio), My Comic Boyfriend (Vision+), dan Kenapa Gue (Vidio).




Komentar
Posting Komentar