Eksplorasi Terbaru Joko Anwar, Menggali Warisan Trauma Antar Generasi dalam Interpretasi Legenda Cerita Rakyat di Film Thriller Legenda Kelam Malin Kundang
Jakarta, 20 November 2025 — Joko Anwar bersama Come and See Pictures selalu menyajikan gagasan
sinematik yang menyegarkan dan berani pada setiap karya terbarunya. Dalam film thriller terbaru yang ia produseri berjudul Legenda Kelam Malin Kundang, disutradarai
Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat, menjadi reinterpretasi yang fresh dari legenda cerita rakyat paling
populer Indonesia, Malin Kundang. Film ini menghadirkan sebuah misteri yang
mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dari sebuah peristiwa traumatik antar
generasi.
Selama ini, rakyat Indonesia mengenal sosok
Malin Kundang sebagai anak durhaka yang lupa pada ibunya setelah pergi
merantau. Namun, kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Malin
dikutuk menjadi batu. Melalui interpretasi yang berani, film Legenda Kelam Malin Kundang menyajikan sebuah
alternatif cerita yang akan membuat penonton berpikir ulang tentang apa yang
selama ini diyakini!
Mengikuti kisah Alif (Rio Dewanto), seniman micro painting yang baru saja pulih dari
kecelakaan dan harus berjuang dengan mengingat memorinya, tiba-tiba harus
menerima kedatangan perempuan yang mengaku sebagai ibunya. Alif sama sekali tak
mengingat wajah sang ibu, yang ia tinggal pergi merantau 18 tahun silam. Alif
pun terseret masuk ke dalam sebuah rahasia kelam.
Dari lorong-lorong sumpek di Jakarta hingga
memento yang terserak di balik karya-karya micro painting-nya, Alif menelusuri
rahasia kelam nan mencekam tentang masa lalunya. Membawa penonton pada sebuah
kisah yang belum pernah dibayangkan, kisah traumatik yang akan membuka mata
kita tentang kebenaran yang tak hanya memiliki dua dimensi.
Dikemas dengan genre thriller-misteri, Legenda Kelam Malin Kundang memberikan
tontonan menghibur dan mendebarkan hingga akhir. Membawa penonton untuk menebak
siapa sebenarnya Alif dan keluarganya, apa yang terjadi padanya, dan mengapa
Alif melupakan ibunya?
Bak labirin di perkampungan ibukota yang
selalu membawa kita pada jalan keluar baru, Legenda Kelam Malin
Kundang juga mengundang penonton untuk berdiskusi
tentang kemungkinan-kemungkinan baru dari kebenaran yang selama ini kita
yakini.
Produser, penulis, dan editor film Legenda Kelam Malin Kundang Joko Anwar
mengungkapkan film ini berupaya untuk menggali warisan trauma yang terjadi
lintas generasi. Sekaligus merefleksikan apa yang terjadi di lingkungan
keluarga sebagai cerminan situasi bangsa.
“Hubungan antargenerasi orangtua dan anak
adalah hal yang paling relevan saat ini untuk kita bicarakan. Dalam sebuah
negara, kualitas masyarakat ditentukan dari level unit terkecil, keluarga.
Apakah sebuah keluarga berkualitas, itu ditentukan dari dinamika orangtua dan
anak, dan relasi tersebut yang paling krusial dan urgen untuk kami angkat di
film ini,” kata Joko Anwar.
“Kita semua sedang berhadapan dengan trauma
yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Film ini menjadi pintu masuk untuk
bisa mengingatkan bahwa terkadang kita harus melihat masalah kita sebagai
individu sebagai kemungkinan bagian dari masalah yang ada dalam tatanan
generasi sehingga ada generational gap,” lanjut Joko.
Legenda Kelam Malin Kundang diproduseri Joko Anwar bersama Tia Hasibuan, serta diproduksi bersama
jajaran kru yang memproduksi Siksa Kubur dan Pengepungan di Bukit Duri–film yang meraih nominasi Piala Citra FFI 2025 terbanyak (12
nominasi). Film ini sekaligus menandai debut penyutradaraan film panjang duo
sineas muda Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo.
Keduanya sebelumnya telah memproduksi
film-film pendek dan telah terlibat di berbagai produksi film layar lebar di
luar divisi penyutradaraan. Selain menyutradarai, Rafki juga menulis naskah
film ini bersama Joko Anwar dan Aline Djayasukmana.
Bagi Rafki dan Kevin, dipercaya Joko Anwar
untuk menggarap film yang diproduserinya adalah tanggung jawab yang harus
dijawab dengan standar kualitas tinggi. Dan keduanya berupaya untuk tetap
menjaga standar kualitas film-film produksi Come and See Pictures dengan
mempersiapkannya secara matang.
“Come and See Pictures telah memproduksi film-film yang terbukti dicintai oleh penonton, dibuktikan dengan capaian di box office maupun penghargaan secara kritis. Untuk itu, kami harus menjaga level tersebut. Meski tekanan, tetapi kami bekerja sama dengan para kru yang telah lama bekerja sama dengan Joko Anwar, sehingga kami sangat terbantu dan membuat proses syuting berjalan secara efektif,” ujar sutradara dan penulis Rafki Hidayat.
“Sejak awal kami sudah merencanakan film ini
dengan matang. Kami membuat videoboard yang juga ini akan memudahkan saat
proses syuting. Dalam proses menggarap film ini, dan menyutradarai berdua
dengan Rafki, kami banyak berdiskusi baik itu teknis seperti treatment hingga
shot agar prosesnya berjalan lancar. Kami ingin Legenda Malin
Kundang menjadi film yang terbaik, bekerja sama dengan
Come and See Pictures dan Joko Anwar tentu kami ingin tetap memberikan standar
kualitas yang bagus,” ujar sutradara Kevin Rahardjo.
Legenda Kelam Malin Kundang dibintangi oleh Rio Dewanto, Faradina Mufti, Vonny Anggraini, Jordan
Omar, Sulthan Hamonangan, Gambit Saifullah, Nova Eliza, dan Tony Merle.
Rio Dewanto, pemeran utama film ini
menuturkan kolaborasinya bersama Rafki dan Kevin berjalan dengan mulus.
Keduanya mampu mengerjakan secara rapi, sehingga sebagai aktor ia menjalankan
visi dua sutradara dengan jelas.
Ia menambahkan, karakterisasinya sebagai
seniman micro painting
juga sangat unik. Sesuatu yang baru dan jarang diangkat sebagai latar karakter
di dalam film.
“Profesi micro painter ini dihadirkan bukan hanya sebagai latar belakang, tetapi juga sebagai
refleksi dari Alif dalam memandang dunia dengan detail, sabar, dan penuh
lapisan makna. Ini akan menjadi bagian dari teka-teki yang bisa penonton
temukan sepanjang film,” kata Rio Dewanto.
Sementara itu, bagi Faradina, juga merasakan
hal sama dengan Rio. Bekerja sama dengan Rafki dan Kevin memberinya kepastian
proses kerja film yang efektif dan efisien. Faradina memerankan karakter
Nadine, istri dari Alif, yang juga menjadi jangkar dari perjalanan emosional di
film ini.
“Ini adalah film panjang pertama Rafki dan
Kevin. Namun, karena dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan dijalankan dengan
hati, para pemeran termasuk aku pun bisa menerima semua visi dengan jelas dan
ikhlas. Kami sebagai aktor tinggal melengkapi 40% yang 60% yang sudah disiapkan
dengan matang oleh Rafki dan Kevin, syuting pun berjalan dengan efisien,
sehingga aku pun dengan mudah mengembangkan karakter Nadine,” ujar Faradina Mufti.
Come and See Pictures memproduksi film Legenda Kelam Malin Kundang bekerja sama
dengan Rapi Films dan Legacy Pictures, dengan Barunson E&A sebagai world sales agent.
Tonton film Legenda Kelam Malin
Kundang mulai 27 November di bioskop! Ikuti terus
informasi terbaru dan perkembangan film ini melalui akun Instagram resmi
@comeandseepictures.
***
Sinopsis
Seorang pelukis yang dikenal lewat
karya-karya micro painting yang mendunia, baru saja pulih dari kecelakaan.
Ketika ia berusaha kembali menjalani hidupnya, seorang perempuan tua tiba-tiba
datang dan mengaku sebagai ibunya. Tapi dia tidak ingat wajah ibu yang dia
tinggalkan 18 tahun yang lalu. Alif (Rio Dewanto) terseret masuk ke dalam
sebuah rahasia kelam. Terinspirasi dari folklore paling ikonik di Indonesia,
Malin Kundang, film ini menafsirkan kembali cerita rakyat dalam balutan drama
misteri yang mencekam.
Tentang Come And See Pictures
Come and See Pictures adalah production house
yang didirikan Joko Anwar dan Tia Hasibuan pada tahun 2020 yang berkomitmen
untuk memproduksi film-film berkualitas dengan cara bercerita yang unik serta craftsmanship yang tinggi. Film pertama yang
mereka produksi adalah Pengabdi Setan 2: Communion untuk Rapi Films. Selain Siksa Kubur, Come and See Pictures juga memproduksi series original Netflix berjudul Nightmares and Daydreams yang tayang tahun
2024, serta memproduksi film panjang untuk Amazon MGM Studios bertajuk
“Pengepungan di Bukit Duri” dan menjadi film action thriller dewasa Indonesia
terlaris sepanjang masa.

.jpeg)






Komentar
Posting Komentar