Film “Alas Roban” Angkat Urban Legend Jalan Paling Melegenda: Saat Mitos Menjadi Teror yang Terasa Nyata
Jakarta, 11 Januari 2026 — Alas Roban sejak
lama dikenal bukan sekadar jalur penghubung, melainkan ruang cerita yang
melekat di ingatan banyak orang. Dari bisik-bisik sopir lintas kota, obrolan
penumpang, hingga kisah yang diwariskan antargenerasi, kawasan di Batang, Jawa
Tengah ini kerap disebut sebagai tempat di mana logika sering “kalah” oleh
hutan yang rapat, kabut yang turun mendadak, serta rasa tidak nyaman yang
muncul tanpa sebab jelas.
Di titik itulah urban legend tumbuh bukan
karena semua orang melihat hal yang sama, melainkan karena banyak orang pulang
membawa perasaan yang serupa. Bagi sebagian pelintas, Alas Roban bukan cuma
soal jalan gelap dan berliku, tetapi juga tentang “aturan tak tertulis” yang
dipercaya harus dihormati.
Sutradara Hadrah Daeng Ratu menyebut Alas Roban punya latar yang kuat karena menyimpan sejarah panjang dan misteri yang terus hidup di tengah masyarakat. “Alas Roban menyimpan banyak sejarah dan misteri. Jalur ini dikenal sebagai salah satu lintasan paling angker di Jawa,” kata Hadrah.
Ia menambahkan, mitos yang beredar kerap
menyebut banyak pengendara mengalami kejadian ganjil, baik saat melintas maupun
setelah melewati kawasan tersebut. “Banyak yang menemukan hal-hal gaib dan
mistis saat melewati, bahkan setelahnya,” ujarnya.
Menjelang penayangannya pada 15 Januari 2026,
film “Alas Roban” merangkum larangan-larangan mistis yang selama ini kerap
dibicarakan: menghindari melintas tepat tengah malam, tidak singgah ke warung
pinggir jalan, mewaspadai spion kendaraan, tidak menanggapi suara yang
memanggil nama dari sisi jalan, serta tidak menatap bayangan diam yang tampak
di pepohonan.
Atmosfer itulah yang menjadi pijakan utama
film ini. “Alas Roban” memotret cara mitos bekerja tidak selalu hadir sebagai
sosok, tetapi sebagai keyakinan, ketakutan yang menular, dan serangkaian
larangan yang mengubah perjalanan malam menjadi ujian mental.
Taskya Namya, yang memerankan Tika, menyoroti
salah satu momen yang menjadi pemantik ketegangan dalam cerita. “Momen ketika
Tika menemukan gambar Gendis yang tidak wajar, kecurigaan muncul makin kuat
karena ada yang aneh. Terlebih saat Gendis mengajak main petak umpet, di situ
ekspresinya tidak seperti Gendis yang ia kenal,” ujar Taskya, menggambarkan
perubahan yang terasa janggal dan mengusik.
Film “Alas Roban” digarap melalui kolaborasi
Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures, serta disutradarai
Hadrah Daeng Ratu. Deretan pemainnya antara lain Michelle Ziudith sebagai Sita,
Rio Dewanto sebagai Anto, Taskya Namya sebagai Tika, Imelda Therinne sebagai
Dewi Raras, serta Fara Shakila sebagai Gendis.





Komentar
Posting Komentar