Film Antara Cinta, Mama, dan Surga: Drama Restu, Cinta, dan Pergulatan Anak–Orang Tua dalam Balutan Budaya Batak
Film karya PIM Pictures yang bekerja sama dengan HKBP dan BPODT ini mengisahkan konflik emosional antara keluarga, cinta, dan pilihan hidup yang tidak mudah, dibalut dalam bahasa cinta Nommensen yang penuh makna.
Jakarta, 17 Februari 2026
– PIM Pictures
memperkenalkan film terbaru mereka Antara
Mama Cinta dan Surga kepada publik dan media dalam rangkaian Press Screening
& Press Conference di Epicentrum XXI. Film ini menghadirkan drama
keluarga yang mengangkat konflik klasik namun relevan lintas generasi: pilihan
antara cinta, restu orang tua, dan masa depan. Film ini akan tayang di bioskop mulai 19 Februari 2026,
Disutradarai oleh Agustinus Sitorus, film ini tidak hanya
menyuguhkan kisah personal seorang anak yang terhimpit ekspektasi keluarga,
tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam tentang komunikasi, pengorbanan, dan
makna restu dalam keluarga Batak.
Film ini
bercerita tentang Bernard (Aldy Maldini), anak bungsu Batak yang
diinginkan menjadi seorang Pegawai Negri Sipil (PNS) sesuai tradisi keluarga.
Namun, bertemu dengan Nommensen dalam beberapa mimpi spiritual membuatnya
merasa terpanggil menjadi pendeta. Keputusannya memicu konflik dengan sang Mamak
(Dharty Manullang) dan mengguncang hubungannya dengan Anindita (Anneth
Delliecia), di tengah benturan iman, cinta, dan nilai keluarga.
“Saya memilih
konflik ini karena keluarga, cinta, dan keyakinan adalah tiga hal yang paling
sering bertentangan dalam kehidupan nyata, namun jarang dibicarakan secara
jujur.” ujar Agustinus.
Konflik
antara tradisi keluarga Batak, panggilan iman, dan pilihan hidup generasi muda
digambarkan melalui konflik batin anak bungsu yang terhimpit antara keyakinan,
cinta, dan harapan keluarga. Tekanan yang silih berganti, mulai dari dalam
dirinya maupun dari lingkungan terdekat. Di tengah cinta yang tulus dan
nilai-nilai keluarga yang dijunjung tinggi, perlahan menyadari bahwa setiap
pilihan selalu memiliki konsekuensi.
Drama Keluarga yang Relatable dan Reflektif
Dalam
film ini, Bernard harus menghadapi tekanan besar dari sang ibu yang
menginginkan ia menjadi Pegawai Negeri Sipil dan menikahi perempuan dengan
pilihan keluarga. Di sisi lain, ia memiliki cinta dan impian yang berbeda di
perantauan.
Aldy
Maldini, yang memerankan Bernard, mengaku karakter ini menjadi salah satu
tantangan terbesarnya sepanjang karier.
“Ini
pertama kali aku memerankan karakter yang benar-benar terhimpit. Biasanya
karakterku dekat dengan diriku sendiri, yang seru dan suka bercanda. tapi
Bernard ada di fase yang sulit—dia harus memilih antara keinginannya sendiri
dan harapan orang tuanya. Itu yang bikin peran ini jadi yang paling susah buat
aku.”
Ia juga
menambahkan bahwa proses pendalaman karakter dilakukan melalui diskusi intens
bersama sutradara dan lawan main Anneth Delliecia untuk memahami konflik batin
Bernard yang tidak selalu meledak secara verbal, tetapi lebih banyak dipendam.
Dengan latar
budaya yang kuat, film ini menyoroti tekanan sosial, makna pengorbanan orang
tua, serta keberanian menentukan masa depan sendiri sebagai refleksi tentang
identitas dan kehidupan.
Bagi Anneth Delliecia,
film ini menjadi pengalaman layar lebar pertamanya. Ia memerankan Anindita,
sosok perempuan yang berada di tengah pusaran konflik Bernard.
Anneth mengaku proses
syuting menjadi pengalaman berharga, terutama karena film ini juga mengambil
lokasi di Sumatera Utara.
“Ini film layar lebar
pertama aku, dan rasanya spesial banget. Syuting di Toba itu pengalaman yang
nggak terlupakan. Selain ceritanya kuat, suasananya juga terasa sangat
emosional dan dekat.”
Ia juga mengungkapkan
bahwa bekerja kembali bersama Agustinus Sitorus menjadi pengalaman yang
menyenangkan dan membantunya lebih percaya diri dalam mengeksplorasi karakter.
Sosok Ibu yang Tegas, Tapi Penuh Cinta
Salah satu karakter
paling kuat dalam film ini adalah sosok Mamak yang diperankan oleh Dharty
Manullang. Di permukaan, karakter ini tampak dominan dan memaksakan kehendak.
Namun di balik itu, tersimpan ketakutan dan kasih sayang yang besar terhadap
anaknya.
Dalam sesi press
conference, Dharty menyampaikan refleksi personalnya sebagai seorang ibu.
“Kadang kita sebagai ibu
merasa paling benar. Kita pikir pilihan kita pasti yang terbaik. Padahal
anaklah yang menjalani hidupnya. Dari film ini saya belajar, jangan sampai
karena kita terlalu dominan, komunikasi dengan anak justru hilang.”
Ia juga menekankan bahwa
karakter Mamak tidak dimaksudkan sebagai antagonis, melainkan representasi
banyak orang tua yang ingin anaknya sukses dengan cara yang mereka pahami.
Salah satu kekuatan film
ini adalah absennya antagonis mutlak. Setiap karakter bertindak atas dasar
cinta dan keyakinan masing-masing. Konflik tidak dibangun dari kebencian,
melainkan dari perbedaan cara memaknai masa depan dan kebahagiaan.
Novia Tumeang yang
memerankan karakter “pilihan kedua” dalam hubungan cinta Bernard mengaku
tertantang karena harus menghidupkan emosi yang belum pernah ia alami secara
pribadi. Sementara Jenda Munthe menekankan pentingnya totalitas dalam setiap
peran, besar maupun kecil.
Interaksi hangat antar
pemain selama press conference juga menunjukkan kekompakan tim produksi yang
solid dan suportif, mencerminkan energi positif yang turut terasa dalam
filmnya.
Dibintangi
juga oleh Kang Joe, Cok Simbara, Dorman Manik, Dominique Sanda, Tabitha
Napitupulu, Novia Situmeang, Rany Simbolon, Fadlan Holao, Jenda Munthe, Mark
Natama, dan akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 19 Februari 2026,
sebagai film drama yang mengangkat realitas budaya dan konflik batin.
Pantau terus
akun Instagram @amcs.bahasacintanommensen dan @pimpictures_, untuk mengikuti
perkembangan terbaru film ini dan menyaksikan pilihan hidup Bernard: akankah ia
memenuhi panggilan hatinya atau harapan keluarganya?






Komentar
Posting Komentar