Ruang Sempit dan Kekuasaan yang Menekan: Lift Hadir sebagai Drama Psikologis yang Relevan dengan Zaman
Film Terbaru Produksi Trois Films
Gunakan Lift sebagai Metafora Kekuasaan dan Ketidakberdayaan
Jakarta,
17 Februari 2026 – Menjelang penayangannya di bioskop
pada 26 Februari 2026, film drama
psikologis Lift semakin menunjukkan relevansinya dengan situasi
sosial hari ini. Diproduksi oleh Trois Films dan menjadi debut
penyutradaraan Randy Chans, film ini menghadirkan kritik sosial melalui
salah satu ruang yang paling akrab dalam keseharian: lift.
Digelar melalui Gala Premiere dan Press
Conference di Djakarta Theater XXI pada 13 Februari 2026, para sineas dan
pemain membagikan visi, proses kreatif, hingga lapisan metafora yang membuat Lift
menjadi sebuah film yang tak hanya menghibur, tapi juga berisi refleksi tentang
kuasa, kontrol, dan posisi individu dalam sistem yang menekan.
Visi
Trois Films: Berani Anti-Mainstream di Film Pertama
Sebagai film perdana Trois Films, Lift
sejak awal dirancang untuk tampil berbeda. Executive Producer Lok S. Iman,
atau yang akrab disapa Pak Lok, menegaskan bahwa keputusan ini bukan tanpa
pertimbangan.
“Kita dari awal memang mau membuat suatu
karya yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Ini adalah debut pertama Randy,
tapi saya percaya Lift akan memberikan nuansa yang berbeda di
perfilman Indonesia. Dan saya berharap bisa diterima oleh masyarakat umum,”
ujarnya.
Ia menyadari bahwa sebagai rumah
produksi baru, langkah ini mengandung risiko. Namun justru di situlah letak
keberaniannya. “Saya percaya Lift akan memberikan nuansa yang
berbeda di perfilman Indonesia. Dan saya berharap bisa diterima oleh masyarakat
umum. Kami juga butuh support supaya film yang berbeda seperti ini bisa
terus hidup.”
Keberanian itu juga diamini oleh Ario
Sagantoro yang terlibat sebagai Technical Advisor/Producer. Dikenal lewat
produksi film laga monumental The Raid, Toro tertarik pada pendekatan anti-mainstream
yang ditawarkan naskah Lift.
“Ini film yang berani, sangat berani
sebagai PH baru. Anti-mainstream. Kalau salah mengeksekusi bisa jadi blunder.
Tapi kalau berani mengambil langkah ini, perlu dapat dukungan supaya film kita
nggak senada terus,” tegasnya.
Toro menambahkan bahwa tugasnya bukan
mengubah film ini menjadi film laga, melainkan menyempurnakan visi yang sudah
ada. “Secara first draft, script-nya sudah bagus. Aku hanya
menyempurnakan dan mewujudkan saja. Memberi bumbu di bagian yang perlu
dibumbui.”
Debut Penyutradaraan
Randy Chans: Targetkan “Perasaan yang Tersisa”
Berbeda dari visi produksi
yang bersifat strategis, perjalanan Randy Chans sebagai sutradara justru
bermula dari situasi tak terkira. Awalnya terlibat sebagai produser, ia harus
mengambil alih penyutradaraan setelah sutradara sebelumnya mengalami
kecelakaan.
“Ini beban banget buat
aku,” ungkap Randy jujur. “Apalagi Mas Toro ikut andil di sini, pasti akan ada
perbandingan [dengan The Raid].”
Alih-alih mencoba meniru
formula laga yang sudah terbukti sukses, Randy memilih jalur berbeda. “Aku suka
film yang setelah ditonton itu rasanya masih ada yang nyisa. Jadi goal
utamaku, penonton keluar bioskop membawa perasaan tertentu.”
Pendekatannya sangat
detail: membedah struktur cerita dari bawah ke atas, memilih cast secara
presisi, hingga memastikan micro-expression menjadi pusat dramatik.
“Banyak sekali micro-expression,
terutama dari Hansen (Verdi Solaiman) dan Doris (Shareefa Daanish). Bahkan
Doris di dalam lift itu tidak banyak bicara, tapi tatapannya yang berbicara.”
Randy juga menyebut bahwa
eskalasi film dirancang bertahap. “Kita bikin miniatur-miniatur eskalasi di
dalamnya. Seperti adegan Hansen dan Joko yang sebenarnya adegan berantem, tapi
digambarkan sambil duduk main catur.”
Tantangan
Para Pemain
Kisah Lift
berpusat pada Linda (Ismi Melinda), staf humas PT Jamsa Land, yang
terjebak di dalam lift enam tahun setelah kecelakaan tragis. Ia dipaksa
menghadapi permainan berbahaya yang membuka kembali lapisan kebenaran masa
lalu, tentang bagaimana keputusan di level atas berdampak langsung pada mereka
yang berada di bawah.
Ismi mengaku peran ini
sangat berbeda dari citra aksinya selama ini.
“Di sini saya tidak
mengeluarkan silat, tapi bersilat lidah. Jadi cukup challenging. Bahkan
untuk adegan fighting pun saya harus menghilangkan muscle memory
martial art. Karena ini self defense perempuan
biasa, bukan ahli bela diri.”
Ia menambahkan bahwa
detail micro-expression menjadi kunci, dari tatapan mata hingga tarikan
napas, agar emosi tetap terasa meski ruang geraknya terbatas.
Max
Metino, yang memerankan podcaster
dengan tangan patah, menggambarkan intensitas emosionalnya.
“Kita harus ngebayangin
gimana di dalam lift, gak bisa keluar, tangan kejepit, dan mungkin mati di
situ. Jadi antara emosi, rasa takut, rasa amarah, dan tenaga fisik harus
dibalut dalam satu kemasan.”
Sebagai karakter yang
berkaitan dengan media sosial, Max juga menyoroti dampaknya di dunia nyata.
“Social media itu
bisa merubah cara pikir masyarakat. Bisa membelokkan fakta. Ini seperti pedang
bermata dua. Kalau salah ya kamu jatuh, kalau benar bisa mengangkat kamu. Jadi
harus hati-hati.”
Sementara itu, Verdi
Solaiman yang memerankan Hansen menjelaskan metafora dialog “Penguasa
adalah tukang kayu” yang sempat ramai diperbincangkan.
“Hansen itu pengusaha yang
punya ambisi untuk ‘mengukir’ atau mengatur negara se-profitable yang
dia inginkan. Bahkan kalau harus diciptakan dengan darah, keringat, dan air
mata rakyat. Itu metafora kayu yang sangat dalam.”
Adegan catur antara Hansen
dan Joko pun dirancang detail: setiap langkah catur harus sinkron dengan
serangan dialog, menciptakan duel strategi yang subtil namun intens.
Di sisi lain, Shareefa
Daanish menghadirkan karakter Doris dengan tekanan psikologis yang kuat
meski minim dialog. Seperti yang disampaikan Randy, “Tatapan matanya yang
berbicara.” Ketegangan dibangun bukan melalui teriakan, melainkan keheningan
yang mengintimidasi.
Terpilih sebagai Official Selection
Dubai City Film Festival 2025, Official Selection AME International Film
Festival 2026, Official Selection The North Film Festival Barcelona 2026,
dan meraih empat nominasi di Los Angeles Fantasia Fest 2025, Lift
menunjukkan bahwa teror yang paling efektif sering kali lahir dari kedekatannya
dengan realitas. Bukan monster, bukan dunia distopia, melainkan ruang
sehari-hari yang tiba-tiba berubah menjadi ruang penuh teror.
Lift
dibintangi oleh Ismi Melinda, Shareefa
Daanish, Verdi Solaiman, Alfie Alfandy, Max Metino, Tegar Satrya, Luthfi
Saputra, Annete Yules, dan Berliana
Lovell. Film Lift
akan tayang serentak di bioskop mulai 26 Februari 2026
Ikuti perkembangan terbaru film ini
melalui akun resmi @lift.movie
dan @trois.films, dan bersiaplah
memasuki ruang sempit yang memaksa kita bertanya: siapa sebenarnya yang
memegang kendali?
Tentang Trois Films
Trois Films adalah sebuah rumah produksi
yang berdedikasi melakukan inovasi untuk menciptakan karya-karya film luar
biasa yang diharapkan mampu memikat hati penonton di seluruh dunia. Trois Film
memiliki komitmen untuk bisa melebihi batasan-batasan konvensional dalam
bercerita dan menghadirkan sebuah pengalaman sinematik yang tak terlupakan.
Dengan tim profesional yang dipenuhi dengan bakat dan semangat, Trois Films
mempersembahkan film yang menghanyutkan para penontonnya ke dalam kehidupan
nyata di layar lebar.
Setelah Lift, Trois Films
tengah mempersiapkan proyek film berikutnya berjudul Dadu, yang
kembali menegaskan komitmen rumah produksi ini dalam menghadirkan karya-karya
dengan pendekatan naratif yang segar dan berani.
Judul : LIFT
Genre : Drama Psikologis
Durasi : 107 Menit
Tanggal tayang : 26 Februari 2025 (Bioskop)
Sutradara : Randy Chans
Produser Eksekutif : Lok S. Iman
Penulis : Aria Gardhadipura
Produser : Adha Riantono
Koproduser : Ario Sagantoro
Production House : Trois Films, Maxima Pictures
Pemain
Ismi Melinda Linda
Shareefa Daanish Doris
Verdi Solaiman Hansen
Alfie Alfandy Mr. X
Max Metino Anton
Tegar Satrya Joko
Luthi Saputra Jonathan (Anak Linda)
T. Rifnu Wikana Deddy
Annete Yules Leoni (Asisten Doris)
Berliana Lovell Dita (Sekretaris Hansen)
Amelia Alfiani Amel (Sekretaris Deddy)








Komentar
Posting Komentar