Ari Irham hingga Asri Welas Hadapi Teror Ritual Desa yang Minta Tumbal
Jakarta, 6 Maret 2026 – Film horor terbaru garapan MBK
Productions dan Drias Film, Hajatan Setan, siap
menghantui layar bioskop Indonesia. Film ini juga bekerjasama dengan
distributor Mockingbird Pictures untuk ekspansi pemutaran film di luar
Indonesia. Mengusung teror ritual desa yang penuh misteri dan rahasia
turun-temurun, film ini menghadirkan deretan pemain film; Ari Irham, Alika
Jantinia, Gisellma Firmansyah, Tanta Ginting, Indra Birowo, Asri
Welas, Bima Zeno, Karina Suwandi, dan Sita Permata Sari.
Dari
produser eksekutif Budi Yulianto dan produser Rendy Gunawan, dan
Disutradarai oleh Bambang Drias dan Eko Kristianto, dengan naskah
yang ditulis oleh Andhy Pulung, B.W. Purba Negara, Vidya T. Ariestya, dan Novia Anggi,
Hajatan Setan memadukan elemen folk horror dengan drama sosial
yang berakar pada kepercayaan kolektif masyarakat desa. Hajatan Setan
mengeksplorasi sisi gelap sebuah hajatan desa yang dipercaya membawa
kemakmuran.
Berlatar sebuah desa di Jawa, film ini
mengikuti kepulangan seorang perempuan muda ke kampung halamannya setelah
bertahun-tahun pergi. Kepulangan tersebut justru membuka kembali luka lama dan
memicu rentetan peristiwa ganjil yang membuat warga diliputi kecurigaan dan
ketakutan. Ketika satu per satu kejanggalan terjadi, muncul pertanyaan besar:
apakah kemakmuran desa benar-benar datang tanpa pengorbanan?
Ari Irham mengungkapkan bahwa karakter
yang ia perankan memiliki tekanan emosional yang kuat. “Yang membuat saya
tertarik adalah bagaimana horornya terasa dekat dan personal. Ada trauma, ada
tekanan sosial, dan itu membuat ketakutannya terasa nyata,” ujarnya.
Sementara itu, Asri Welas menyebut film
ini sebagai salah satu pengalaman horor paling intens dalam kariernya. “Begitu
membaca naskahnya, saya langsung merinding. Ada momen-momen yang benar-benar
membuat saya tidak nyaman. Istilah ‘hajatan setan’ sendiri sudah cukup
menyeramkan, karena kita semua tahu hajatan itu identik dengan kebahagiaan,
tapi di sini justru jadi sumber teror.”
Sutradara Bambang Drias menjelaskan
bahwa istilah Hajatan Setan lahir dari ketika mulai
mempertanyakan makna di balik sebuah tradisi. “Kami sering melihat hajatan
sebagai simbol kebahagiaan dan kemakmuran. Tapi bagaimana kalau di balik itu
ada harga yang harus dibayar?” ujarnya.
Eko Kristanto menambahkan bahwa
pendekatan film ini dibuat sedekat mungkin dengan realitas agar terasa lebih
mengusik. “Kami ingin penonton merasa ini bukan cerita yang jauh dari kehidupan
sehari-hari. Ketika satu desa percaya bahwa pengorbanan adalah bagian dari
tradisi, horornya jadi terasa masuk akal, dan justru itu yang menjadi sumber
horornya. Hajatan Setan bermain di wilayah itu: antara
kepercayaan dan ketakutan.”
Dengan kombinasi ensemble cast
lintas generasi dan premis yang provokatif, Hajatan Setan
diprediksi menjadi salah satu film horor yang paling dinantikan tahun ini.
Mengangkat isu tentang tradisi, stigma, dan pengorbanan, film ini menjanjikan
pengalaman menegangkan sekaligus menggugah rasa ingin tahu.
Ikuti perkembangan terbaru film Hajatan
Setan melalui akun media sosial resmi @filmhajatanfilm
dan @driasfilm_ untuk mengetahui
tanggal tayang resminya.
Bersiaplah, karena tidak semua perayaan
berakhir dengan kebahagiaan…


Komentar
Posting Komentar