Merayakan talenta dan pencapaian ilustrator lokal
Jakarta, 5 Maret 2026 — Penulis dan sutradara Joko Anwar mengajak enam ilustrator Indonesia
berskala dunia untuk film terbarunya, Ghost in the Cell. Keenam ilustrator tersebut bertugas untuk membuat konsep seni
“instalasi kengerian” ditampilkan dalam film horor komedi ini.
Keenam illustrator tersebut adalah Anwita
Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, hafidzjudin, Dan Rudy AO. Mereka bertugas membuat konsep seni yang
indah tapi mengerikan, yang jadi salah satu elemen utama cerita film Ghost in the Cell.
“Sejak awal saya ingin Ghost in the Cell tidak hanya menjadi film,
tapi juga ruang kolaborasi lintas seni bagi seniman-seniman lokal. Indonesia
punya begitu banyak ilustrator berbakat dengan gaya visual yang kuat dan unik.
Dengan melibatkan mereka, kami bukan hanya memperkaya dunia visual film ini,
tapi ingin membuat pernyataan bahwa kolaborasi lintas medium seperti ini
penting agar ekosistem kreatif kita terus tumbuh dan saling menguatkan,”
ujar ungkap penulis dan
sutradara Joko Anwar.
“Kami berdiskusi bentuk untuk setiap adegan
instalasi horor dalam film ini. Semuanya merepresentasikan apa yang kita takuti
secara kolektif dalam masyarakat.
Berikut adalah profil keenam ilustrator macabre concept artist di film Ghost
in the Cell:
1. Anwita
Citriya
Anwita Citriya merupakan ilustrator asal
Bandung. Ia membuat komik sebagai hobi hingga akhirnya dilirik oleh penerbit
Amerika Serikat pada tahun 2021. Ia dikenal karena kemampuannya membangkitkan
reaksi emosional yang kuat melalui cerita dan karya seninya.
Anwita memulai debutnya sebagai seniman lewat
CREEPSHOW pada tahun 2022, dan kemudian
sebagai seniman-penulis (artist-writer) bersama BOOM! Studios pada tahun
2025. Sejak saat itu, ia telah bekerja sama dengan banyak penerbit ternama.
Ketertarikan Anwita pada genre horor
psikologis membuat karya-karyanya juga mampu mengungkap ketakutan tersembunyi
hingga kenangan yang dikubur dalam-dalam.
Anwita juga terlibat dalam perilisan komik
Universal Monsters versi terbaru sebagai cover artist (Phantom of the Opera, Frankenstein, dan
lainnya).
2. Benediktus
Budi
Ilustrator digital asal Wonogiri, Jawa
Tengah, ini banyak mengerjakan ilustrasi untuk merchandise (t-shirt, poster,
dan cover album) dan
kebanyakan artwork yang
dikerjakan bertema gelap.
Benediktus pernah mengerjakan poster dan t-shirt untuk band Toxicholocaust untuk
promosi tur Jepang 2024 dan poster Scare Tactics, sebuah prank show yang
tayang di USA Network pada 2024.
3. Benny
Bennos Kusnoto
Benny Kusnoto adalah seniman storyboard yang telah berkarier selama lebih
dari 17 tahun. Ia pernah menjadi ghost layout artist untuk komik Justice League Dark #7, ilustrator komik strip (web) lepas untuk Namco Bandai, dan ilustrator
lepas untuk Stone Blade Entertainment. Benny juga dikenal dengan karya-karyanya
sebagai creature designer.
4. Coki
Greenway
Ilustrator asal Jakarta yang sekarang menetap
di Purwokerto, Jawa Tengah.
Ratusan karyanya bersama musisi rock dan
metal mancanegara meliputi AC/DC, Motley Crue, Judas Priest, Dragon Force dll.
Ia juga menghasilkan karya special merchandise untuk MARVEL (Deadpool dan
Venom).
Berkarier lebih dari 15 tahun di dunia
ilustrasi seni gelap (dark art illustration), karya-karyanya sangat terinspirasi dari buku komik dan tentu saja
film-film horor era klasik serta era Slasher.
5. Hafidzjudin
Ilustrator yang berfokus pada tema visual
yang bernuansa gelap, seram, dan gore.
Visual yang ditampilkan adalah detail yang intens, dan selalu menjaga
kesan ‘hand drawing’ yang khas.
Beberapa grup musik ternama yang pernah
bekerja sama dengannya di antaranya
adalah Seringai, Dead Squad, Down For Life, dll.
6. Rudy
AO
Selain menjadi macabre concept
artist, di film Ghost in the Cell Rudy AO juga mengerjakan poster ilustrasinya. Rudy dikenal melalui
potret ikon budaya populer yang sangat realistis (hyper-realistic).
Rudy AO berasal dari Bandung, terkenal
sebagai artis sampul komik untuk komik DC dan juga untuk dua IP besar Red Sonja
dan Vampirella. Ia memiliki spesialisasi dalam teknik pensil (penciling) dan pewarnaan (coloring), menggunakan akrilik dan alat
digital untuk menciptakan ilustrasi berkualitas sinematik layaknya potongan
adegan film.
Film Ghost in The Cell diproduksi oleh Come and See Pictures, bekerja sama dengan RAPI Films
dan Legacy Pictures. Barunson E&A juga menjadi sales agent untuk perilisan worldwide
film ini.
Tonton film Ghost in The Cell di bioskop mulai 16 April 2026! Ikuti terus informasi terbaru dan perkembangan film Ghost in The Cell di instagram @comeandseepictures.
***
SINOPSIS
Di dalam lapas Labuhan Angsana, para napi
hidup dengan masalah setiap hari: penindasan dari pejabat lapas, serta
permusuhan dan kekerasan antar sesama tahanan. Suatu hari, seorang napi baru masuk
dan satu per satu napi mati dengan cara yang sangat mengerikan. Setelah
mengetahui bahwa ada hantu yang membunuh orang dengan aura atau energi yang
paling negatif, para napi berlomba-lomba berbuat kebaikan untuk membuat aura
mereka tetap positif. Tapi tentunya sangat sulit tetap positif di penjara yang
penuh ketidakadilan. Hingga mereka sadar satu satu hal yang sepertinya tak
mungkin tapi harus mereka lakukan untuk tetap hidup: bersatu untuk melawan
penindas, bahkan hantu sekalipun!
Tentang Come And See Pictures
Come and See Pictures adalah production house
yang didirikan Joko Anwar dan Tia Hasibuan pada tahun 2020 yang berkomitmen
untuk memproduksi film-film berkualitas dengan cara bercerita yang unik serta
craftsmanship yang tinggi. Film pertama yang mereka produksi adalah Pengabdi
Setan 2: Communion untuk Rapi Films. Selain Siksa Kubur, Come and See Pictures
juga telah merampungkan series original Netflix berjudul Nightmares and
Daydreams yang tayang tahun 2024 lalu, serta memproduksi film panjang untuk
Amazon MGM Studios bertajuk
Pengepungan di Bukit Duri.

Komentar
Posting Komentar