Langsung ke konten utama

Prince Poetiray & Quinn Salman Bawakan Perdana OST Na Willa “Sikilku Iso Muni” Bersama Pemain Na Willa 

 Momen Kolaborasi Hangat JUMBO x Na Willa Sambut Penayangan 18 Maret 2026 di Bioskop Seluruh Indonesia



Jakarta, 3 Maret 2026Lagu Original Soundtrack (OST) film Na Willa berjudul “Sikilku Iso Muni” untuk pertama kalinya diperdengarkan secara utuh di hadapan publik dalam acara penutupan Festival Imlek Nasional di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu malam (29/2).

Momen spesial ini dibawakan oleh Prince Poetiray dan Quinn Salman, voice cast sekaligus penyanyi OST Jumbo, film animasi terlaris terlaris sepanjang masa di Asia Tenggara, bersama para pemeran anak film Na Willa, dalam sebuah kolaborasi hangat yang mempertemukan dua semesta cerita.


Prince Poetiray & Quinn Salman

Sebelum membawakan lagu terbaru tersebut, Prince dan Quinn terlebih dahulu menyanyikan “Selalu Ada di Nadimu”, lagu yang telah melekat dalam perjalanan mereka bersama penonton Indonesia. Suasana panggung semakin meriah ketika keduanya kemudian memperkenalkan “Sikilku Iso Muni” dan menyanyikannya secara penuh untuk pertama kalinya, disambut antusias ribuan pengunjung yang hadir.

Penampilan ini menjadi momen kolaboratif antara yang menyatukan dua semesta JUMBO dan Na Willa. Lagu ciptaan laleilmanino tersebut juga dinyanyikan bersama Geng Krembangan, yaitu Luisa Adreena (Na Willa), Freya Mikhayla (Farida), dan Ibrahim Arsenio (Bud). Kebersamaan mereka di atas panggung menghadirkan suasana hangat dan ceria, selaras dengan semangat masa kecil yang menjadi jiwa film Na Willa.


Luisa Adreena, Freya Mikhayla & Ibrahim Arsenio

Dengan aransemen ringan dan menyenangkan, “Sikilku Iso Muni” merepresentasikan sudut pandang anak yang penuh imajinasi dan rasa ingin tahu. Lagu ini menjadi bagian penting dari cara Na Willa bercerita, memperlihatkan bagaimana hal-hal sederhana dalam keseharian dapat terasa ajaib di mata anak-anak.

Selain penampilan lagu, official trailer Na Willa juga turut diputar di atas panggung, memperkenalkan kembali dunia Willa yang berlatar Indonesia era 1960-an. Para pemeran film, termasuk Irma Rihi yang memerankan Mak, juga hadir dalam sesi ngobrol bersama penonton, berbagi cerita tentang proses kreatif dan pengalaman mereka membangun chemistry sebagai keluarga dalam film.

Prince Poetiray mengungkapkan kegembiraannya dapat terlibat dalam momen spesial tersebut dan menyampaikan dukungannya terhadap film Na Willa, yang menurutnya memiliki semangat yang mengingatkannya pada awal perjalanannya bersama JUMBO.


Prince Poetiray

“Aku senang sekali bisa jadi bagian dari momen pertama kali ‘Sikilku Iso Muni’ dinyanyikan secara penuh di depan publik. Waktu ikut membawakan lagu ini bareng teman-teman Na Willa, rasanya mengingatkanku ke masa awal aku mengerjakan JUMBO dulu, sama-sama penuh semangat, keceriaan, kehangatan, dan dikerjakan dengan hati. Aku yakin Na Willa juga akan jadi film yang dekat di hati banyak orang,” ujar Prince Poetiray.

Penulis dan sutradara Na Willa, Ryan Adriandhy, menjelaskan bahwa musik menjadi bagian penting dalam membangun emosi cerita film ini. “Di Na Willa, musik bukan hanya pelengkap, tetapi bagian dari cara kami bercerita. ‘Sikilku Iso Muni’ Lahir dari semangat dunia anak-anak yang sederhana tapi penuh imajinasi. Kami senang akhirnya lagu ini bisa didengarkan secara penuh oleh publik dan menjadi langkah awal menuju perjalanan filmnya di Lebaran nanti,” ujar Ryan Adriandhy.

Semangat Festival Imlek Nasional yang merayakan kebersamaan dan keberagaman juga selaras dengan semangat film Na Willa. Film ini menghadirkan potret keluarga sederhana dengan latar budaya yang beragam, mencerminkan wajah Indonesia yang hangat dan penuh toleransi.




Antusiasme pengunjung juga terlihat di area interaktif Na Willa yang dihadirkan dalam rangkaian acara. Booth Na Willa memungkinkan anak-anak membaca buku dan mewarnai, sementara Perpustakaan Keliling Na Willa mengajak pengunjung menikmati pengalaman membaca bersama di ruang publik. Aktivitas ini memperkuat semangat literasi dan imajinasi yang menjadi napas utama film.

Na Willa diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo dan diproduksi oleh Visinema

Studios, menghadirkan kisah keluarga sederhana dengan latar keberagaman budaya Indonesia yang hangat dan relevan lintas generasi. Film ini akan tayang pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen Lebaran, di bioskop seluruh Indonesia.

Tonton kisah penuh imajinasi, kehangatan, dan kebersamaan keluarga bersama film Na Willa di bioskop mulai 18 Maret 2026.


***


Sinopsis

 

Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran

 

Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin tahu dan imajinasinya.

 

Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.

 

Film ini membawa keajaiban dalam dunia sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.




Catatan Produksi:


Judul Film                  

: Na Willa

Genre                          

: Drama, Keluarga

Sutradara                   

: Ryan Adriandhy

Produser Eksekutif 

: Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem

Produser                     

: Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari

Ko-Produser              

: Mia A. Santosa

Produser Lini             

: Tersi Eva Ranti

Asisten Sutradara     

: Mizam Fadilah Ananda

Unit Manajer Produksi

: K. Dwi Prasetya

Sinematografer          

: Yadi Sugandi

Desainer Produksi 

: Sri Rini Handayani

Penata Busana           

: Astrid Rosiana Ishak

Penata Rias                

: Notje M. Tatipata

Penata Suara              

: Siti Asifa Nasution

Penyunting                 

: Teguh Raharjo

Komposer                   

: Ofel Obaja 

Pemeran                     

: Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi,  

  Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira  

  Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla 

  Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno.




TENTANG VISINEMA GROUP


Didirikan pada tahun 2008 oleh sineas Indonesia, Angga Dwimas Sasongko, Visinema Group (Visinema) memiliki visi untuk menjadi center of excellence dalam setiap bentuk storytelling di Indonesia dengan ekosistem storytelling yang komprehensif. Visinema berkomitmen untuk senantiasa mengembangkan dan melahirkan konten, cerita, serta film yang menarik untuk dapat dinikmati oleh para pecinta film dan publik di berbagai saluran dan platform. 

 

Visinema memiliki Visinema Pictures yang menghasilkan film-film layar lebar yang menghadirkan cerita-cerita yang menarik dan impactful serta memberikan pengalaman sinematik terbaik bagi para pecinta film; Visinema Studios yang fokus menghadirkan konten berkualitas untuk anak dan keluarga, serta animasi dan puppet show; Visinema Content yang melahirkan konten berkualitas yang dapat dinikmati di platform streaming; dan Skriptura yang memberikan layanan script development dan scriptwriting. 

 

Visinema sudah melahirkan sejumlah portofolio IP (Intellectual Property) yang telah dinikmati oleh publik, diantaranya adalah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, Surat Dari Praha, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, Keluarga Cemara, Generasi 90an: Melankolia, Nussa, Mencuri Raden Saleh, 13 Bom di Jakarta, Heartbreak Motel dan sejumlah IP box office lainnya yang telah ditayangkan di layar bioskop, Nussa Official Series dan Domikado yang dapat dinikmati di kanal YouTube, serta Pertunjukkan Panggung Musikal Keluarga Cemara yang telah mendapatkan sambutan hangat dari publik. Visinema semakin memperkuat posisinya dalam industri film dan kreatif Indonesia untuk menjadi center of excellence dalam setiap bentuk karya yang dihasilkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PELUNCURAN FILM PANGGUNG TERLARANG & SLIDE FILM TERBARU BINTANG CAHAYA SINEMA

PELUNCURAN FILM PANGGUNG TERLARANG & SLIDE FILM TERBARU BINTANG CAHAYA SINEMA Bintang Cahaya Sinema berkolaborasi dengan Komunitas Bogor Bamora dan Pictlock Cinema Jakarta, 11 April 2026 - Bintang Cahaya Sinema mempertegas langkah strategisnya dalam membangun industri film Indonesia yang berkelanjutan melalui penyelenggaraan Press Conference film "Panggung Terlarang". Momentum ini tidak hanya menjadi peluncuran karya, tetapi juga pemaparan komprehensif atas arah kreatif, peta proyek, serta strategi ekspansi global perusahaan melalui partisipasi di Marché du Festival de Cannes. Di mana tahun ini adalah tahun ke-3 Bintang Cahaya Sinema membuka booth di Marché du Festival de Cannes. Sebagai rumah produksi yang berorientasi pada pembangunan intellectual property (IP) jangka panjang, Bintang Cahaya Sinema mengembangkan portofolio proyek secara terstruktur mengintegrasikan kekuatan narasi, relevansi sosial, serta potensi komersial lintas platform dalam satu kerang...

“SUAMIKU LUKAKU” RILIS TRAILER, ANGKAT KISAH KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG KERAP TERSEMBUNYI DI BALIK CITRA KELUARGA HARMONIS

Original Soundtrack oleh Kris Dayanti berjudul “Aku Bangkit” hadir sebagai penguat emosi cerita Jakarta, 1 Mei 2026 – Rumah produksi SinemArt resmi merilis trailer perdana film terbarunya, SUAMIKU LUKAKU , sebuah film drama yang mengangkat isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap tersembunyi di balik citra keluarga yang tampak harmonis. Kisah yang diangkat dalam SUAMIKU LUKAKU pun terinspirasi dari realitas yang dialami oleh 1 dari 4 perempuan di Indonesia, menjadikannya cerminan isu yang dekat dan nyata di masyarakat. Melalui trailer ini, penonton diperlihatkan dinamika hubungan Amina (Acha Septriasa) dan Irfan (Baim Wong) yang dipenuhi kekerasan, baik fisik yang meninggalkan luka terlihat maupun kekerasan verbal yang menghadirkan luka batin mendalam. Dalam trailernya, Irfan digambarkan sebagai sosok yang dipandang sebagai pemuka agama di lingkungan sekitarnya, mengikuti jejak ayahnya, sehingga citra yang dibangun di hadapan publik berbanding terbalik dengan realitas...

​"Teror Tak Kasat Mata: 'Asrama Putri' Siap Hantui Bioskop Mulai 19 Februari 2026"

  Industri film horor tanah air kembali memacu adrenalin lewat sebuah karya terbaru yang diangkat dari kisah nyata. Jakarta, 14 Februari 2026 - Berlatar disebuah di sebuah kampus ternama di Bogor, film 'Asrama Putri' siap mengungkap misteri kelam di balik jeritan tengah malam para mahasiswi. Diperankan oleh Samuel Rizal dan Dea Annisa, film garapan sutradara Wishnu Kuncoro ini menjanjikan horor psikologis tanpa mengandalkan jump scare semata. Akankah misteri masa lalu yang melibatkan dendam arwah bernama Sally ini terungkap? Simak ulasan lengkapnya berikut ini. Bagi kamu pecinta horor yang merindukan ketegangan atmosferik, film 'Asrama Putri' resmi merilis jadwal tayangnya pada 19 Februari 2026 mendatang. Bukan sekadar horor biasa, film produksi Puras Production ini disebut-sebut mengangkat isu sosial dan realitas kampus yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dibintangi oleh deretan aktor ternama seperti Dea Annisa dan Mawar Butterfly, mari kita bedah sinopsi...