Jakarta, 30 April 2026 — Crocodile Tears, film
panjang perdana sutradara Tumpal Tampubolon, siap menyapa penonton Indonesia di
layar lebar mulai 7 Mei 2026. Diproduseri oleh Mandy Marahimin, film ini hadir
membawa energi segar: sebuah drama keluarga yang mencekam, dibangun secara
kolaboratif oleh para sineas dari empat negara, dan kini tiba dengan pengakuan
internasional dari 33 festival film dunia bergengsi.
Perjalanan Crocodile Tears di panggung
internasional dimulai dari pemutaran perdananya di Toronto International Film
Festival 2024, salah satu festival film paling bergengsi di dunia. Dari sana,
film ini terus melangkah ke festival film prestisius di dunia lainnya seperti
Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, Tallinn Black
Nights Film Festival dan Goteborg International Film Festival. Kemudian dilanjutkan ke Adelaide Film
Festival, Torino Film Festival, Red Sea International Film Festival dan banyak
lainnya. Apresiasi yang datang dari berbagai penjuru dunia menjadi bukti nyata
bahwa cerita yang lahir dari tanah Indonesia mampu berbicara kepada penonton
global.
Di balik layar, Crocodile Tears adalah karya
yang sepenuhnya bersifat kolaboratif. Tumpal Tampubolon dikenal sebagai
sutradara dengan pendekatan terbuka yang memberikan ruang luas bagi para Heads
of Department dan aktor untuk menginterpretasikan naskahnya secara bebas dan
personal. "Film ini kami kembangkan selama tujuh tahun, dengan 17 draft
skenario sampai akhirnya menemukan bentuk yang kami yakin," ujar Tumpal.
"Tapi justru momen yang paling kami tunggu adalah ketika akhirnya film ini
bisa pulang dan bertemu dengan penonton Indonesia."
Proses kreatif yang kolaboratif ini tercermin
dalam penampilan para aktornya. Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa
Maharani yang tidak sekadar memerankan karakter tetapi mereka turut
membentuknya bersama sang sutradara. "Tumpal memberi kami ruang yang
sangat besar untuk masuk ke dalam karakter masing-masing. Ada banyak lapisan
emosi yang kami bangun bersama dari awal proses persiapan sampai syuting,"
ungkap Marissa Anita yang memerankan karakter Mama. "Pengalaman itu yang
membuat karakter Mama terasa begitu nyata bagi saya."
Tumpal Tampubolon sendiri bukan nama baru dalam
dunia sinema Indonesia. Ia telah menempa diri lewat serangkaian film pendek
yang diakui di festival nasional maupun internasional. Dari “The Last
Believer” yang meraih penghargaan di JIFFest (Jakarta International Film
Festival), “Mamalia” yang masuk seleksi Rotterdam dan Hong Kong
International Film Festival, hingga “Laut Memanggilku” yang meraih Sonje
Award di Busan International Film Festival 2021 sekaligus nominasi Film Pendek
Terbaik di Festival Film Indonesia 2021. Melalui berbagai karya film pendeknya,
Tumpal dikenal dengan kejeliannya dalam menggarap film drama di mana emosi para
karakter terbangun perlahan namun konsisten. Dalam setiap karyanya Tumpal juga
dikenal selalu menghadirkan twist yang mengejutkan. Pendekatan yang sama ini
hadir dalam Crocodile Tears.
Produser Mandy Marahimin menambahkan,
“Perjalanan Crocodile Tears tidak singkat, dari pengembangan hingga
produksi yang melibatkan kru dari empat negara. Kami membutuhkan waktu 6 tahun
sebelum akhirnya film ini bisa kami produksi, dan total delapan tahun sebelum
film ini akhirnya bisa dinikmati penonton di Indonesia. Persiapan yang kami
lalui pun cukup detail. Proses casting selama hampir dua tahun, persiapan yang
serius dan rinci selama berbulan-bulan, termasuk sampai membangun sebuah rumah
di dalam taman buaya yang berdampingan dengan ratusan buaya hidup. Ini sebuah
film yang melalui proses yang sangat kolaboratif, dan kami persiapkan dengan
hati. Harapannya, film ini bisa diterima dengan hangat oleh penontonnya."
Crocodile Tears bercerita tentang MAMA
(Marissa Anita), ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras
melindungi Johan dari dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka
menjalani kehidupan yang tenang dan monoton di sebuah taman buaya. Kehidupan berubah
menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke
dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka,
hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan
terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus segera dilakukan.
Menggabungkan realisme magis dan teror
psikologis, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang intim, dengan relasi
yang terasa dekat namun menyimpan lapisan konflik yang semakin terasa seiring
berjalannya cerita.
Film ini diproduksi oleh Talamedia bekerja sama
dengan Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots
Filmproduction, serta didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
dan E-Motion Entertainment.
Setelah perjalanan panjang, kini Crocodile
Tears siap bertemu dengan penonton Indonesia di layar lebar. Saksikan Crocodile
Tears mulai 7 Mei 2026 di bioskop.
SINOPSIS
MAMA (Marissa Anita),
ibu tunggal dari JOHAN (Yusuf Mahardika), berusaha keras melindungi Johan dari
dunia yang dia pikir akan menyakitinya. Berdua, mereka menjalani kehidupan yang
tenang dan monoton.
Kehidupan berubah
menjadi penuh intrik dan ketegangan, ketika ARUMI (Zulfa Maharani) datang ke
dalam hidup Johan. Saat Johan mengajak Arumi untuk tinggal bersama mereka,
hubungan Johan dan Mama tidak pernah sama lagi. Ketegangan demi ketegangan
terjadi, sampai akhirnya Mama memutuskan ada yang harus dilakukan, segera.
CROCODILE TEARS
Production : Talamedia & E-Motion Entertainment
Co-Production : Acrobates Films
Poetik Films
Giraffe Pictures
2Pilots Filmproduction
International Sales & Festivals : Cercamon
Casts : Yusuf Mahardika (Johan)
Marissa Anita (Mama)
Zulfa Maharani (Arumi)
Director : Tumpal Tampubolon
Writer : Tumpal Tampubolon
Producer : Mandy Marahimin
Co-Producers : Claire Lajoumard
Anthony Chen
Christophe Lafont
Harry Flöter
Jörg Siepmann
Teoh Yi Peng
Executive Producers : Arnold J. Limasnax
Lianto Winata Vachon
Tjen Foeng Fa
Kevin Danudoro
Cinematographer : Teck Siang Lim
Production Designer : Jafar
Art Director : Guntur Mupak
Costume : Hagai Pakan
Make-up : Cherry Wirawan
Agustin Puji
Sound : Roman Dymny
Bruno Ehlinger
Romain Ozanne
Music : Kin Leonn
Editor : Jasmine Ng Kin Kia
Kelvin Nugroho
Poster & Logo : Evan Wijaya
Photo Poster : Robin Budidharma

.jpg)

.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar