Momen Haru Reda Gaudiamo dan Ibu Farida di Surabaya, Kisah Nyata di Balik Na Willa yang Telah Dirasakan Hampir Satu Juta Penonton
Pertemuan dua sahabat masa kecil di Gang Krembangan hidup kembali di layar lebar, persahabatan yang tak lekang waktu.
Jakarta, 1 April 2026 — Momen haru dan hangat tercipta dalam nobar film Na Willa di Tunjungan Plaza 1 XXI, Surabaya
pada Selasa, 31 Maret 2026. Untuk pertama kalinya dalam momen yang begitu
istimewa, penulis sekaligus inspirasi cerita Na Willa, Reda Gaudiamo, kembali dipertemukan dengan sahabat masa kecilnya, Ibu
Farida, sosok nyata yang turut hidup dalam cerita film ini.
Keduanya adalah bagian dari kisah nyata di
balik Na Willa, yang
diangkat dari pengalaman masa kecil Reda di Krembangan, Surabaya. Setelah lebih
dari enam dekade, dua sahabat kecil ini kembali duduk berdampingan di dalam
bioskop, menyaksikan potongan-potongan memori masa kecil mereka yang kini hidup
di layar lebar.
Ibu Reda Gaudiamo & Ibu Farida naik becak di Gang Krembangan
Suasana menjadi begitu emosional ketika
beberapa adegan di film Na Willa
membuat Ibu Farida berkaca-kaca. Salah satunya adalah adegan ketika Na Willa
ingin ikut mengaji bersama Farida, momen sederhana yang kini terasa begitu
dalam dan penuh makna.
Di film ini, Farida diperankan oleh Freya
Mikhayla, sementara Na Willa diperankan oleh Luisa Adreena. Sosok Farida
digambarkan sebagai anak yang ceria, tidak bisa mengucap huruf ‘R’, dan menjadi
teman terdekat Willa, yang merupakan sosok dari Reda kecil. Keduanya
menghadirkan kembali dinamika persahabatan masa kecil yang jujur, hangat, dan
penuh keceriaan, sebuah refleksi dari kisah nyata yang pernah terjadi.
“Terima kasih yang sudah menonton Na Willa. Apa lagi yang sudah menonton
berkali-kali. Saya sangat berharap, film ini bisa membawa teman-teman kembali
bahagia, kembali ke masa kecil, bisa tetap bertemu dan menyambung hubungan
dengan teman lamanya,” ujar Reda Gaudiamo.
“Nontonnya ikut terharu. Pas nonton itu, kok Faridanya mirip sekali sama
saya pas kecil ya. Apalagi saat adegan mengaji dan salat. Si Linda, nama kecil
Reda Gaudiamo, ambil sprei, aduh, terharu sekali nontonnya, tidak bisa
berkata-kata,” kenang Ibu Farida usai menonton film Na Willa.
Tak hanya menghadiri nobar Film Na Willa bersama Ibu Farida, Reda juga
menyempatkan kembali ke Krembangan, tempat masa kecilnya tumbuh. Ia mengunjungi
rumah Ibu Farida, dan keduanya kembali berpelukan, seperti dua sahabat lama
yang tak lekang oleh waktu tengah melepas rindu.
Meski banyak hal telah berubah di Krembangan,
bagi Reda tempat ini tetap menyimpan kenangan yang begitu dalam. Terlebih,
masih ada sahabatnya yang menetap di sana, Farida.
“Masa kecil saya di Surabaya, dan itu menjadi
setting cerita Na Willa. Tumbuh di Surabaya dengan berbagai macam teman dan tetangga dari
berbagai ras, dan itu menjadi bagian penting dari cerita ini,” ujar Reda Gaudiamo.
“‘Apakah ini cerita saya?’ Latar belakangnya
iya, setting-nya iya,
tokoh-tokohnya juga ada semua di dalam kehidupan saya. Ada Farida, ada Dul, ada
Bud, mereka adalah teman-teman kecil saya,” kata Reda.
“Saya dulu berjanji mau pulang cepat, segera
pulang. Tapi saya ternyata tidak pernah pulang, namun janjinya sekarang sudah
terpenuhi, meskipun di saat kami sudah sama-sama tua,” kenang Reda tentang janjinya kepada Farida
saat ia pindah dari Krembangan.
“Dulu bilangnya sebentar, eh hampir 66 tahun
baru ketemu lagi. Dia bilangnya sebentar. Jangan ditinggalin lagi ya sekarang,”
kata Ibu Farida.
Sementara itu, film Na Willa telah meninggalkan kesan yang
mendalam bagi ratusan ribu penontonnya. Termasuk salah satunya produser,
sutradara dan penulis Ernest Prakasa. Menurut Ernest, film Na Willa mampu menyeimbangkan sisi edukasi
dan juga hiburannya. Secara terbuka ia menyampaikan apresiasinya terhadap film
ini.
“Buat gue, Na Willa adalah film yang yang luar biasa, bagus banget. Nggak bakal nyesel deh
nonton. Nonton dan berbanggalalah kita punya film Indonesia seperti ini,” kata Ernest Prakasa.
Ernest memuji hampir semua aspek yang ada di
film Na Willa. Mulai
dari peran Luisa Adreena yang menurutnya sesuatu yang sangat luar biasa, hingga
peran Mak yang dibawakan oleh Irma Rihi. Pujian Ernest juga ditujukan untuk
pilihan metode pendekatan yang diambil oleh sang sutradara, Ryan Adriandhy
dalam menyajikan visual dan sudut pandang di film.
“Ryan kan pernah bilang di behind the scene, bahwa dia bukan bikin
Surabaya tahun ‘60-an, tapi bikin Surabaya tahun ‘60-an di mata seorang Na
Willa yang usianya 6 tahun. Dan menurut gue, ini sebuah treatment yang jitu untuk film ini karena eye candy banget, production design-nya teliti banget, hal-hal kecil tuh diperhatiin banget,” puji Ernest.
“Mata kita dimanjakan sama visual yang cakep
banget. Udah gitu, akting. Nah, ini yang menurut gue gila banget. Akting si Na
Willa dan Mak, dua-duanya tuh buat gue istimewa sekali. Gue cukup yakin, Mak
akan dapat nominasi FFI sebagai Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik,” ungkap Ernest.
Lebih dari sekadar film, Na Willa telah menjadi pengalaman emosional
yang kini sedang dirasakan banyak orang, sebuah perjalanan pulang ke masa
kecil, ke keluarga, dan ke rasa hangat yang sederhana karena Na Willa adalah kita.
Ratusan ribu orang telah lebih dulu merasakan
hangat dan bahagianya Na Willa
dan cerita ini masih terus hadir di bioskop.
Ajak keluarga dan orang-orang terdekat
menonton film Na Willa untuk
bisa bersama-sama
#BahagiaBarengNaWilla.
***
Sinopsis
Film Na Willa adalah perayaan terbesar untuk keluarga saat Lebaran
Kisah tentang Na Willa, gadis enam tahun
penuh imajinasi, percaya gang kecil tempat tinggalnya adalah dunia penuh
keajaiban. Tapi ketika teman-temannya mulai bersekolah dan dunianya berubah, Na
Willa belajar bahwa bertumbuh berarti merelakan tanpa kehilangan rasa ingin
tahu dan imajinasinya.
Na Willa mengajak kita melihat kembali dunia
dari sudut pandang anak-anak: penuh imajinasi, keajaiban, dan rasa ingin tahu.
Film ini membawa keajaiban dalam dunia
sederhana yang dibuat untuk semua, untuk anak-anak, orang tua, dan siapa pun
yang rindu akan hangatnya keluarga dan masa kecil.
Catatan Produksi:
Judul Film | : Na Willa |
Genre | : Drama, Keluarga |
Sutradara | : Ryan Adriandhy |
Produser Eksekutif | : Herry B. Salim, Angga Dwimas Sasongko, Antonny Liem |
Produser | : Anggia Kharisma, Novia Puspa Sari |
Ko-Produser | : Mia A. Santosa |
Produser Lini | : Tersi Eva Ranti |
Asisten Sutradara | : Mizam Fadilah Ananda |
Unit Manajer Produksi | : K. Dwi Prasetya |
Sinematografer | : Yadi Sugandi |
Desainer Produksi | : Sri Rini Handayani |
Penata Busana | : Astrid Rosiana Ishak |
Penata Rias | : Notje M. Tatipata |
Penata Suara | : Siti Asifa Nasution |
Penyunting | : Teguh Raharjo |
Komposer | : Ofel Obaja |
Pemeran | : Luisa Adreena, Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, Putri Ayudya dan Ratna Riantiarno. |
TENTANG VISINEMA GROUP
Didirikan pada tahun 2008 oleh sineas Indonesia, Angga Dwimas Sasongko, Visinema Group (Visinema) memiliki visi untuk menjadi center of excellence dalam setiap bentuk storytelling di Indonesia dengan ekosistem storytelling yang komprehensif. Visinema berkomitmen untuk senantiasa mengembangkan dan melahirkan konten, cerita, serta film yang menarik untuk dapat dinikmati oleh para pecinta film dan publik di berbagai saluran dan platform.
Visinema memiliki Visinema Pictures yang menghasilkan film-film layar lebar yang menghadirkan cerita-cerita yang menarik dan impactful serta memberikan pengalaman sinematik terbaik bagi para pecinta film; BION Studios yang menghadirkan cerita-cerita hyperlocal dan trending di masyarakat; Visinema Studios yang fokus menghadirkan konten berkualitas untuk anak dan keluarga, serta animasi dan puppet show; Visinema Content yang melahirkan konten berkualitas yang dapat dinikmati di platform streaming; dan Skriptura yang memberikan layanan script development dan scriptwriting.
Visinema sudah melahirkan sejumlah portofolio IP (Intellectual Property) yang telah dinikmati oleh publik, diantaranya adalah Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, Surat Dari Praha, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, Keluarga Cemara, Generasi 90an: Melankolia, Nussa, Mencuri Raden Saleh, 13 Bom di Jakarta, Heartbreak Motel dan sejumlah IP box office lainnya yang telah ditayangkan di layar bioskop, Nussa Official Series dan Domikado yang dapat dinikmati di kanal YouTube, serta Pertunjukkan Panggung Musikal Keluarga Cemara yang telah mendapatkan sambutan hangat dari publik. Visinema semakin memperkuat posisinya dalam industri film dan kreatif Indonesia untuk menjadi center of excellence dalam setiap bentuk karya yang dihasilkan.





Komentar
Posting Komentar