Jakarta, 8 April 2026 — Industri horor Indonesia kembali
memanas dengan hadirnya The Bell:
Panggilan untuk Mati, film terbaru hasil koloborasi produksi Sinemata Buana
Kreasindo yang resmi merilis poster utamanya. Film ini memperkenalkan Penebok,
sosok hantu tanpa kepala dari mitos Belitung yang digambarkan sebagai entitas
yang bangkit dan siap menjadi teror baru tahun ini. Film The Bell: Panggilan untuk Mati akan tayang di bioskop 7 Mei
2026.
Di
tengah tren film horor lokal yang terus mendominasi pasar, The Bell hadir dengan pendekatan berbeda: mengangkat folklore yang masih jarang tereksplorasi
ke layar lebar. Penebok bukan sekadar figur menyeramkan, tetapi representasi
dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat.
Poster
yang dirilis memperlihatkan atmosfer gelap dan mencekam, dengan visual Penebok
sebagai pusat ancaman. Sosok tanpa kepala berbalut gaun merah ini menghadirkan
rasa tidak utuh yang justru memperkuat elemen teror sekaligus membangun
identitas horor baru yang kuat.
Sutradara
The Bell, Jay Sukmo, menyampaikan
bahwa film ini ingin memperluas cara pandang penonton terhadap horor Indonesia.
“Horor Indonesia sedang berada di fase yang sangat menarik. Penonton tidak
hanya mencari rasa takut, tetapi juga cerita yang punya akar budaya. Penebok
kami hadirkan sebagai representasi dari kekayaan cerita lokal yang belum banyak
diangkat.”
Sementara
itu, produser Rendy Gunawan yang berkolaborasi dengan Aris Muda sebagi
produser, menekankan pentingnya membangun karakter yang ikonik dalam lanskap
horor saat ini.“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang bukan hanya menakutkan,
tapi juga punya identitas kuat. Penebok adalah upaya kami menciptakan ikon
horor baru yang lahir dari budaya sendiri dan bisa diingat penonton dalam waktu
lama.”
Mengambil latar dengan nuansa urban dan mistis khas Belitung, The Bell: Panggilan untuk Mati menghadirkan pengalaman horor yang baru dan segar, sekaligus memperkuat posisi cerita lokal di tengah persaingan industri film nasional.
Bertempat di Metropole XXI, kawasan
Cikini Jakarta Pusat (7/04/26). Sinemata Buana Kreasindo menggelar prosesi
peluncuran trailer resmi dan poster di susul press conference bersama awak
media. Acara ini dihadiri oleh produser eksekutif, produser, sutradara, penulis
naskah dan pemain film The Bell :
Panggilan untuk Mati. Berikut rangkuman point pembicaraan pada press
conference hari ini.
Visi Mengangkat Mitologi Lokal ke Panggung Nasional
Pihak produser menegaskan bahwa The Bell bukan sekadar film horor biasa, melainkan sebuah misi
untuk memperkenalkan kekayaan urban
legend Pulau Belitung yang selama ini tersembunyi.
Budi
Yulianto
selaku produser eksektuif menjelaskan bahwa ide film ini lahir dari pengalaman
pribadinya saat berkunjung ke kawasan bersejarah peninggalan Belanda di Bukit
Samak, Manggar. Ia merasa Belitung memiliki potensi besar untuk memperkenalkan urban legend yang belum pernah terangkat
ke layar lebar, yakni sosok Penebok yang berkaitan erat dengan sejarah kelam
pertambangan timah.
"Kami ingin mengangkat urban legend dari masyarakat
Belitung ke kancah nasional. Sejak kecil, anak-anak di sana selalu
diperingatkan agar tidak main terlalu jauh ke hutan kalau tidak mau diambil
oleh Penebok. Kami melalui proses riset yang panjang untuk mengaitkan legenda
ini dengan sejarah masa kolonial."
Sebagai produser, Aris Muda memiliki visi untuk
menciptakan ikon horor baru di Indonesia. Baginya, khasanah horor nasional
tidak boleh terjebak hanya pada sosok pocong atau kuntilanak, sementara banyak
daerah memiliki mitologi yang jauh lebih mencekam seperti Penebok dan misteri lonceng
keramat.
"Hantunya apa? Penebok. Teman-teman mungkin belum tahu, tapi melalui film ini kami ingin menjadikannya ikon horor baru yang populer. Ada tabu nyata di Belitung: dilarang membunyikan lonceng setelah pukul 6 sore. Inilah yang kita hadirkan sebagai khasanah mitologi horor nasional."
Produser Rendy Gunawan menekankan bahwa pemilihan lokasi dan cerita ini
didasari oleh kedekatan emosional dan akar budaya keluarganya yang berasal dari
Belitung. Ia berharap langkah ini menjadi gerbang bagi film-film lain untuk
mengeksplorasi kekayaan mistis di daerah-daerah lain di Indonesia.
"Indonesia begitu kaya akan multi-culture dan hal-hal
mistis yang menjadi urban legend. Kami memulai dari Belitung karena kedekatan
keluarga kami dengan daerah ini. Harapannya, akan lebih banyak lagi film yang
mengangkat urban legend dari daerah-daerah lain."
Kedalaman Naskah: Perpaduan Teror Psikologis dan Treatment khusus dari
Khusus Sutradara
Penulis naskah dan sutradara sepakat
bahwa kekuatan utama film ini terletak pada jalinan cerita yang emosional, di
mana rasa takut dibangun melalui cerita dan atmosfer mencekam, bukan sekadar
kejutan visual.
Bagi Priesnanda Dwisatria, menulis The Bell adalah tantangan besar
karena ini merupakan proyek horor perdananya. Ia menumpahkan segala ketakutan
pribadinya ke dalam naskah, namun tetap menjaga agar pondasi ceritanya memiliki
kedalaman emosi yang kuat.
"Saya ini orangnya penakut, jadi saya tumpahkan semua
rasa takut saya ke dalam skrip ini. Namun, film ini tidak cuma horor biasa; ada
core cerita tentang drama, romance, dan hubungan keluarga yang sangat kuat di
dalamnya."
Sutradara Jay Sukmo membawa pendekatan teknis yang unik dengan menggunakan
tiga aspek rasio gambar untuk membedakan periode waktu. Ia berkomitmen
memberikan teror yang lebih elegan melalui atmosfer dan situasi, bukan sekadar
mengandalkan kejutan visual atau jumpscare.
"Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan
situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment treatment yang mungkin belum ada
di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda
untuk menggambarkan setiap periodenya."
Totalitas Peran dan Otentisitas Budaya Melayu
Para pemeran utama melakukan pendalaman karakter yang luar
biasa, mulai dari penguasaan dialek Belitung yang kental hingga memahami
filosofi tanggung jawab dalam tradisi setempat.
Givina mengungkapkan dedikasinya dalam
memerankan karakter Saida, termasuk tantangan menguasai dialek lokal demi
menghormati masyarakat Belitung. Baginya, karakter ini sangat berkesan karena
menunjukkan sisi ketangguhan perempuan pesisir.
Demi memperdalam dialek Belitung, Givina mengaku sangat
dibantu oleh salah satu sahabatnya – Zulfanny yang juga merupakan asli Belitung
dan juga aktor pemeran Ikal di film Laskar Pelangi –
“Saida adalah cewek bertampilan sangat strong yang punya
banyak cinta, tapi ditunjukkan dengan tough love atau act of service. Saya
tidak mau mempresentasikan penduduk asli Belitung dengan setengah-setengah,
makanya saya ngulik bahasa mereka 24 jam demi mendeliver hati dari film ini.”
Ratu Sofya merasa sangat terhubung dengan
lokasi syuting dan karakter Airin yang pemberani. Meskipun syuting di lokasi
yang terkesan angker, ia justru merasa antusias karena disambut hangat oleh
warga lokal.
"Karakter Airin ini lumayan mirip sama aku: blak-blakan
dan pemberani. Aku happy banget syuting di Belitung karena kotanya cantik dan
antusiasme masyarakatnya luar biasa saat melihat kita syuting."
Bhisma Mulia mendeskripsikan karakter Danto
sebagai sosok yang penuh beban tanggung jawab namun setia. Ia merasa ketegangan
dalam film ini sangat efektif karena penonton diajak merasakan situasi
terisolasi akibat teror yang mengintai di luar rumah.
"Film The Bell ini membangun ketegangan saat kalian
tidak bisa keluar rumah sama sekali karena di luar ada teror Penebok. Karakter
Danto ini sebenarnya 'green flag', dia setia dan berusaha memenuhi tanggung
jawab besar sebagai pewaris terakhir ilmu kakeknya."
Shaloom Razade memberikan sedikit bocoran bahwa karakternya
akan memberikan warna misteri tersendiri karena perbedaan garis waktu yang ia
perankan.
"Challenge terbesar tentu di bahasa. Karakterku,
Isabella, adalah seorang aktivis yang membela hak-hak di bumi pada masa yang
berbeda dengan karakter lain. Jadi timeline aku berbeda dengan cast yang
lainnya.
Aktor senior Mathias Muchus
memberikan testimoni yang sangat positif terhadap project ilm ini. Ia menilai The Bell memiliki kualitas produksi yang
tinggi dan filosofi teror yang mampu menghantui penonton bahkan setelah keluar
dari bioskop.
"Suara lonceng itu adalah teror. Jujur, dari sekian
banyak film saya yang mengantre di bioskop, ini satu-satunya film yang paling
saya naikkan ke Grade A. Ada hikmah dan filosofi mendalam di balik seremnya
film ini."
Mengambil
latar dengan nuansa urban dan mistis khas Belitung, The Bell: Panggilan untuk Mati
menghadirkan pengalaman horor yang baru dan segar, sekaligus memperkuat
posisi cerita lokal di tengah persaingan industri film nasional.
***
SINOPSIS
Sebuah
lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri
oleh sekelompok YouTuber demi konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut
justru membebaskan Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama
ratusan tahun.
Sosok
hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu,
meninggalkan jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror
menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda
kematian—Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.
Pemain/ Casts : Ratu Sofya, Bhisma Mulia, Shaloom Razade,
Givina Dewi, Mathias Muchus, Septian DwiCahyo, Nabil Lunggana, Maulidan Zuhri
Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli
Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan
Sutradara : Jay Sukmo
Penulis : Priesnanda
Co-Produser : Agus Suhardi
Lini Produser : Ipunk Purwono
DoP : Indra Suryadi
Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026
Tentang Multi Buana Kreasindo
Multi
Buana Kreasindo (MBK) merupakan perusahaan kreatif yang berawal sebagai rumah
produksi film dan dikenal melalui karya-karya yang kuat secara storytelling
serta mampu menarik perhatian audiens luas. Seiring perkembangan, MBK terus
memperluas kiprahnya ke berbagai bidang industri kreatif seperti advertising,
podcast, dan konten digital, dengan menggabungkan media tradisional dan format
modern untuk menciptakan pengalaman yang relevan dan inovatif. Hal ini
tercermin dari portofolio film yang beragam, mulai dari drama, horor, hingga
kisah inspiratif, yang menunjukkan komitmen MBK dalam menghadapi.

.jpg)
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar