Ketika Lonceng Berbunyi, Semuanya Akan Berubah Film The Bell: Panggilan untuk Mati Tayang di Bioskop!
Film The Bell: Panggilan
untuk Mati telah sukses melakukan
special screening di beberapa
bioskop di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Bogor, Tangerang, Depok, serta
di Belitung sebagai lokasi yang menjadi asal folklor cerita film ini.
Jakarta, 8 Mei 2026 – Film horor The Bell: Panggilan
untuk Mati resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis, 7 Mei 2026.
Menghadirkan sosok Penebok sebagai
ikon horor baru yang
berakar dari folklore lokal, film ini menawarkan pengalaman berbeda yang tidak
hanya menegangkan, tetapi juga meninggalkan rasa penasaran yang sulit
diabaikan.
Film
The Bell: Panggilan untuk Mati telah
melaksanakan special screening di sejumlah kota di Indonesia, termasuk Bandung,
Bogor, Belitung, Depok, Tangerang, dan Jakarta. Penayangan ini menjadi awal
dari sambutan penonton terhadap atmosfer horor yang dihadirkan film ini,
khususnya di Belitung sebagai lokasi yang menjadi akar folklor cerita.
Selanjutnya, film ini juga akan melanjutkan rangkaian roadshow di berbagai
bioskop di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang, untuk memperluas jangkauan penonton
serta menghadirkan pengalaman horor yang lebih dekat dengan pecinta horor.
Di tengah tren film horor
yang terus diminati, The Bell:
Panggilan untuk Mati, menghadirkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan
ketegangan, tetapi juga memiliki cerita dengan latar budaya yang kuat. Penebok
diperkenalkan sebagai sosok yang lahir dari mitos lokal, membawa atmosfer yang
tidak hanya mencekam, tetapi
juga memiliki kedalaman cerita yang jarang
diangkat ke layar lebar.
Lebih
dari sekadar menghadirkan rasa takut, film ini juga mengangkat isu yang relate dengan kehidupan saat ini, termasuk
fenomena obsesi terhadap viralitas di era digital. Melalui cerita yang
dihadirkan, penonton diajak melihat bagaimana batas antara hiburan dan
konsekuensi sering kali menjadi semakin sulit dibedakan.
Sutradara
Jay Sukmo menghadirkan pendekatan visual yang berbeda dengan menggunakan tiga
aspek rasio gambar untuk membedakan periode waktu dalam cerita. “Saya ingin
menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada
treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga
frame aspek rasio yang berbeda untuk
menggambarkan setiap periodenya,” ujarnya.
Sementara
itu, aktor senior Mathias Muchus menilai film ini memiliki kekuatan pada
pengangkatan mitos lokal. “Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga
memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat.
Horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi juga memiliki makna,”
ungkapnya.
Dengan
kombinasi antara teror, pendekatan sinematik yang berbeda, serta
cerita yang berakar pada budaya lokal, The Bell: Panggilan untuk Mati menjadi salah satu film horor yang layak
disaksikan di bioskop saat ini.
Film ini juga dibintangi oleh Mathias Muchus, Shaloom Razade, Givina,
Zidan Zhu, Septian Dwi Cahyo, Sita Permatasari,
Nabil Lunggana, serta Felsen yang turut memperkuat jajaran pemeran dalam film
ini.
Tak
hanya tayang di dalam negeri, The Bell:
Panggilan untuk Mati juga melangkah ke kancah
internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market yang berlangsung pada 12–20 Mei 2026, sebagai upaya
memperkenalkan film ini kepada para sineas industri perfilman global.
Tonton The Bell: Panggilan untuk
Mati di bioskop Indonesia mulai hari ini, 7 Mei 2026,
dan rasakan langsung pengalaman teror yang berbeda di layar lebar! Ikuti
informasi terbaru mengenai film ini melalui Instagram @thebell.film.
***
SINOPSIS
Sebuah
lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi
konten. Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan
Penebok—entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun. Sosok
hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, meninggalkan
jejak kematian dengan kondisi kepala terpenggal. Kini teror menyebar ke warga
desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian—Penebok datang untuk
menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.
Cast dan Filmmaker
Eksekutif Produser : Budi Yulianto, Avesina Soebli
Produser : Aris Muda, Rendy Gunawan
Sutradara : Jay Sukmo
Penulis : Priesnanda
Co-Produser : Agus Suhardi
Lini Produser : Ipunk Purwono
DoP : Indra Suryadi
Cast : Bhisma Mulia (Danto), Ratu Sofya (Airin), Mathias Muchus (Tuk Baharun), Shaloom Razade (Isabel), Septian Dwi Cahyo (dr. Usman), Givina Lukita Dewi (Saidah), Maulidan Zuhri (Hanafi).
Produksi : SINEMATA BUANA KRESINDO/ 2026
Tentang Sinemata Buana Kresindo
Sinemata Buana Kresindo merupakan kolaborasi dari dua perusahaan kreatif, yaitu Multi Buana Kreasindo (MBK Productions) dan Sinemata Productions, yang menyatukan kekuatan di bidang pengembangan konten, produksi, hingga distribusi film. Berangkat dari pengalaman MBK dalam storytelling dan strategi komunikasi berbasis konten, serta perjalanan Sinemata sebagai agensi marketing film yang berkembang menjadi produser dan distributor, kolaborasi ini hadir dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam industri perfilman. Melalui Sinemata Buana Kresindo, keduanya berkomitmen menghadirkan karya yang relevan, kuat secara cerita, serta mampu menjangkau audiens yang lebih luas melalui kolaborasi strategis di industri kreatif Indonesia.
Tentang OST Film
“Penuh Kenangan” merupakan original soundtrack (OST) dari film The Bell: Panggilan untuk Mati yang dibawakan oleh Egha De Latoya. Lagu ini menghadirkan nuansa emosional yang kuat, mengangkat tema kesetiaan, harapan, dan keyakinan dalam cinta di tengah ketidakpastian. Tidak hanya sebagai pelengkap film, “Penuh Kenangan” juga berperan memperkuat narasi dan pengalaman emosional penonton melalui lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, aransemen yang menyentuh, serta karakter vokal yang penuh penghayatan. Didistribusikan melalui berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Langit Musik, lagu ini menyasar penikmat film dan musik digital, khususnya generasi muda. Promosinya didukung oleh strategi digital yang terintegrasi, mulai dari kolaborasi dengan kampanye film, aktivasi media sosial, hingga kerja sama dengan influencer.
Diproduksi bersama RPM Music sebagai label yang berpengalaman di industri musik digital, “Penuh Kenangan” juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai brand dan partner melalui bentuk sponsorship, campaign, serta aktivasi kreatif lainnya. Kehadiran lagu ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara musik, film, dan audiens secara lebih luas.

Komentar
Posting Komentar