Film Monster Pabrik Rambut Menyajikan Horor Fantasi Retro dengan Pengalaman Sinematik yang Berbeda, Mengangkat Secara Jujur Keresahan Jutaan Pekerja Tentang Normalisasi Lembur Kurang Tidur
Film
Monster Pabrik Rambut tayang mulai 4 Juni 2026 di bioskop Indonesia
Jakarta, 20 Juni 2026
— Palari Films mempersembahkan film terbaru karya
sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut, yang akan tayang di bioskop Indonesia
mulai 4 Juni 2026. Dibintangi oleh Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan,
Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Kev, Monster Pabrik Rambut menghadirkan
pengalaman horor fantasi retro dari latar pabrik rambut dan situasi para
pekerjanya yang kurang tidur.
Edwin menghadirkan
sosok monster, yang turut menawarkan keberagaman genre horor di Indonesia.
Situasi-situasi horor di film ini dibangun dari atmosfer pabrik rambut yang creepy, sosok Bos Maryati (Didik Nini Thowok)
yang tersenyum manis namun eksploitatif, serta serangkaian kejadian janggal
yang menimpa para pekerja mereka.
Sebagai sutradara
yang karya-karyanya telah diakui secara internasional dari berbagai festival
dan ajang penghargaan, Edwin kembali membawa kebaruan dengan eksperimen visual
dan eksplorasi cerita yang inovatif di Monster Pabrik Rambut. Di film ini,
Edwin mengkritisi hustle culture
yang justru diglorifikasi, dengan menghadirkan ketegangan horor yang berasal
dari rutinitas kerja sehari-hari, bukan horor spiritual.
Film ini menyoroti
realita bahwa kerja berlebihan juga bisa membawa pada situasi yang menyeramkan.
Dengan mengangkat keresahan jutaan pekerja saat lembur dinormalisasi, Monster
Pabrik Rambut secara jujur meneriakkan jeritan yang sudah terlalu lama ditahan
oleh para pekerja Indonesia.
Eksplorasi Edwin di
Monster Pabrik Rambut salah satunya ditunjukkan dengan pendekatan practical effect tanpa CGI, untuk menampilkan
sisi retro yang ada di film ini. Menjadi sebuah tawaran yang segar dan berbeda
di tengah lanskap film horor Indonesia saat ini.
Edwin juga kembali
bermain-main dengan fantasinya yang unik dan eksentrik dengan hadirnya sosok
Monster di film ini, Bos Pabrik, Maryati, yang memanfaatkan persona misterius
Didik Nini Thowok, serta kehadiran karakter Bona yang didesain mampu
meregenerasi tubuhnya. Visualisasi yang tampak ‘liar dan berani’ adalah
sisi fantasi film Monster Pabrik Rambut,
meneruskan visi sinematik dari filmografinya terdahulu.
Lewat Monster
Pabrik Rambut, Edwin menghadirkan gagasan horor yang hadir dari rutinitas
keseharian para pekerja. Menggabungkannya dengan genre yang paling populer,
menjadi sebuah pengalaman menonton horor yang berbeda.
Di Monster Pabrik
Rambut, Edwin bermain dengan bentuk horor. Bukan dalam bentuk horor spiritual,
namun terinspirasi dari horor dan film retro Indonesia era ‘80-an, dengan
menciptakan ketegangan dari nuansa atmosferik dan banyak mengandalkan practical effect.
“Ketegangan dan
teror horor di Monster Pabrik Rambut tercipta dari situasi kita bekerja
sehari-hari yang kita hadapi, tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada
bentuk lain yang menjadi sumber teror,” ujar sutradara Edwin.
Untuk menciptakan
nuansa atmosferik horor fantastis retro di Monster Pabrik Rambut, Edwin
menggandeng desainer produksi Menfo Tantono, Pemenang Piala Citra FFI 2024
untuk Penata Artistik Terbaik. Edwin dan Menfo menyulap Studio PFN menjadi
sebuah pabrik rambut dengan kehadiran rambut asli hingga sekitar dua truk,
beserta manekin, prostetik, sisir paku, dan berbagai elemen yang ada di pabrik
rambut/wig di dunia nyata.
Diproduseri oleh
Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut turut menjadi
ko-produksi internasional lima negara, Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman,
dan Prancis. Film ini lebih dulu tayang perdana (world premiere) di Berlin
International Film Festival 2026. Monster Pabrik Rambut juga telah tayang di
berbagai festival film internasional termasuk Brussels Fantastic Film Festival,
Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026, dan yang akan datang
Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada.
“Keinginan Palari
Films membuat film horor adalah sebuah kebutuhan untuk mencoba menghasilkan
karya baru, sambil memperkaya khasanah film horor Indonesia. Ide awal film
Monster Pabrik Rambut muncul saat Edwin datang dengan pernyataan bahwa
sepertinya tempat kerja kita bisa lebih horor dibandingkan film horor itu
sendiri. Kita semua pernah merasakan ini, apapun bidang pekerjaan kita.
Bagaimana bentuk Monster di tempat kerja kamu?,” ujar produser Meiske
Taurisia.
Rachel Amanda, yang
memerankan Putri, mengungkapkan Monster Pabrik Rambut membawa tema yang sangat
dekat untuk kelas pekerja di segala lini. Film ini menjadi refleksi terhadap
kondisi kerja yang belum ideal.
“Paling relate dari
film ini adalah kita para pekerja kan sering sekali lembur, bahkan terkadang
sampai harus mengorbankan beberapa hal di hidup kita seperti waktu dengan
keluarga atau waktu luang. Cerita dan para karakter di film ini memperlihatkan
betapa horornya dunia kerja yang terkadang bahkan dinormalisasi. Sakit dianggap
kerja keras, tapi apakah sistem kerjanya itu benar?” Ujar Rachel Amanda.
Sementara Iqbaal
Ramadhan, yang memerankan Bona, menyebutkan karakternya sangat unik dan
imajinatif. Untuk menciptakan Bona, Iqbaal banyak berdiskusi dengan Edwin.
“Bona adalah
karakter yang unik, ajaib, fantastis, dan aneh. Bentuknya berbeda tapi tetap
punya keterkaitan yang penting dengan cerita yang diangkat di film ini. Monster
Pabrik Rambut adalah horor retro fantastis yang keren dari Edwin, nikmati
perjalanannya,” ujar Iqbaal.
“Bona juga menjadi
simbol resistansi terhadap standar produktivitas gila-gilaan yang dipaksakan
oleh sebuah sistem kepada diri kita yang banyak terjadi saat ini dan banyak
dinormalisasi,” tambah Iqbaal.
Saksikan Monster Pabrik
Rambut yang akan tayang serentak di seluruh bioskop
Indonesia mulai 4 Juni 2026.
Dapatkan informasi terkini melalui akun Instagram @palarifilms atau situs resmi palarifilms.com.
***
Sinopsis
PUTRI (Rachel Amanda)
kehilangan ibunya, yang mati setelah beberapa hari tak tidur karena bekerja
siang dan malam. Menurut MARYATI (Didik Nini Thowok), pemilik pabrik, ibunya
mati bunuh diri. Awalnya ia percaya, tapi IDA (Lutesha), adiknya, mengatakan bahwa
ibu mereka mati karena kesurupan. Untuk membuktikan omongannya, Ida memutuskan
untuk lembur, tak tidur berhari-hari, demi melihat sendiri sosok hitam yang
merebut tubuh ibunya. BONA (Iqbaal Ramadhan), adik bungsu mereka, memiliki
kemampuan spesial. Ia mampu meregenerasi bagian tubuhnya. Sosok hitam berhasil
menyandera Bona. Mampukah Putri dan Ida menyelamatkan Bona?
***
Palari Films adalah
perusahaan produksi film yang didirikan pada tahun 2016 di Jakarta, dipimpin
oleh produser Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy. Palari Films menandai
terobosan baru dalam perfilman Indonesia dengan memenangkan Golden Leopard,
penghargaan tertinggi di Festival Film Locarno ke-74 dengan film “Seperti
Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.
Beberapa film yang pernah
diproduksi Palari Films adalah “Kabut Berduri” (Netflix Original Indonesia,
2024) mendapatkan 12 nominasi Piala Citra 2024 dan berhasil menduduki peringkat
2 dalam Daftar Global Netflix Top 10 Film Non-English pada periode dua pekan
tayang. Sebelumnya “Dear David” (2023), omnibus “Piknik Pesona” (2022), “Ali
& Ratu-Ratu Queens” (2021), “Aruna & Lidahnya” (2018), “Posesif”
(2017). Palari Films berusaha untuk selalu menghasilkan karya-karya yang unik
dan berkualitas.






Komentar
Posting Komentar